Ringkasan Berita:
° Survei lebih dari 700 responden menunjukkan 52,22% menilai ponsel ultra tipis tak punya masa depan.
° Upaya Apple dan Samsung lewat iPhone Air dan Galaxy S25 Edge pun dianggap gagal karena masalah baterai, kenyamanan, dan durabilitas.
JAKARTA, LINTANGPOS.com – Upaya Apple dan Samsung mempopulerkan ponsel super tipis tampaknya tak berbuah manis.
Dua jagoan terbaru mereka—iPhone Air dan Galaxy S25 Edge—yang dipromosikan sebagai perangkat elegan dan inovatif, justru dinilai tidak cukup menarik di mata konsumen.
Sebuah jajak pendapat yang melibatkan lebih dari 700 responden menghasilkan temuan yang cukup mengejutkan: 52,22% peserta menilai ponsel ultra tipis tidak memiliki masa depan, sementara 47,78% percaya sebaliknya.
Meski selisihnya tipis, mayoritas tetap meragukan keberlanjutan konsep ponsel super ramping ini.
Masalah Utama: Baterai dan Kenyamanan
Desain tipis ternyata datang dengan konsekuensi besar: daya tahan baterai.
Baik iPhone Air maupun Galaxy S25 Edge dilaporkan memiliki performa baterai yang kalah dibanding ponsel berdesain standar.
Padahal, teknologi baterai silicon-carbon sudah tersedia dan digunakan sejumlah produsen Tiongkok untuk menghadirkan kapasitas besar tanpa menambah ketebalan perangkat.
Selain itu, beberapa pengguna mengeluhkan kenyamanan dan durabilitas.
Meski iPhone Air terasa premium, bingkai titanium disebut bisa terasa menusuk tangan saat digenggam erat.
Perangkat ini juga cenderung cepat panas saat menjalankan tugas berat.
Jika Bukan Ponsel Tipis, Apa Masa Depan Smartphone?
BACA JUGA: Bocoran Besar! MacBook Murah Apple Siap Mengguncang Pasar di 2026, Bareng iPhone 17e dan iPad Baru
Pertanyaan besar pun muncul: jika ponsel ultra tipis bukan masa depan, lalu apa?
Beberapa pengamat membayangkan inovasi seperti ponsel tanpa tombol, perangkat wearable yang berfungsi sebagai telepon, hingga teknologi futuristik lain—meski semuanya belum terlihat dalam waktu dekat.
Namun, ada satu kategori yang dianggap punya potensi kuat: slim foldable phone.
Contohnya, Galaxy Z Fold 7 yang tetap tipis saat dibuka, mendukung multitasking, dan memiliki daya tahan lebih baik.
Dengan baterai yang lebih besar berkat teknologi baru, perangkat lipat tipis bisa jadi justru mewakili arah perkembangan smartphone dalam beberapa tahun ke depan.
Hasil jajak pendapat menunjukkan bahwa ultra slim phone masih menghadapi jalan terjal.
BACA JUGA: Huawei Bikin Kejutan! File iPhone Bisa ‘Ngalir’ ke Ponsel HarmonyOS 6, Saingi AirDrop?
Tanpa inovasi baterai dan peningkatan kenyamanan, tren ini bisa berumur pendek.
Sementara itu, perhatian konsumen justru mulai bergeser ke perangkat lipat yang makin matang dan praktis.
Apple dan Samsung kini memiliki pekerjaan rumah besar: menentukan apakah mereka harus memperbaiki formula ponsel tipis, atau beralih fokus ke teknologi lain yang lebih diminati pengguna. (*/red)






