Jalan Rusak Bikin Petani Kopi Kepahiang Tekor di Ongkos

oleh -122 Dilihat
oleh
Jalan rusak di Kepahiang kian parah akibat hujan. Petani kopi harus membayar ongkos angkut mahal. Pemkab Kepahiang ajukan pembangunan lewat IJD. Foto: dok/IST)

Ringkasan Berita:

Hujan deras memperparah kerusakan jalan Cinto Mandi–Langgar Jaya–Damar Kencana di Kepahiang. Petani kopi terpaksa menanggung biaya angkut tinggi hingga jutaan rupiah. Jalan 13 km ini belum dibangun karena keterbatasan anggaran dan kini diusulkan melalui Inpres Jalan Daerah.


KEPAHIANG, LINTANGPOS.com – Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Kepahiang beberapa waktu terakhir bukan hanya membawa kesejukan, tetapi juga keluhan panjang dari para petani.

Kondisi jalan penghubung Cinto Mandi – Langgar Jaya – Damar Kencana kian memprihatinkan.

Lumpur, lubang jalan, hingga badan jalan yang licin membuat aktivitas angkut hasil pertanian semakin sulit.

Bagi para petani, jalan sepanjang kurang lebih 13 kilometer ini bukan sekadar akses biasa.

Jalan tersebut adalah jalur utama pengangkutan kopi—komoditas andalan yang menjadi penopang ekonomi keluarga mereka sehari-hari.

Saat hujan turun, jalan berubah seperti lintasan ekstrem yang menguras tenaga, waktu, dan biaya.

BACA JUGA: Hujan Deras, Jalan Lintas Mura–Pali Lumpuh Terendam Banjir

Ongkos Angkut Melonjak Tajam

Imelda, salah seorang petani kopi setempat, mengungkapkan bahwa rusaknya jalan berdampak langsung pada biaya produksi.

Ia menyebut, ongkos angkut kopi kini bisa mencapai Rp3.000 hingga Rp5.000 per kilogram, tergantung kondisi cuaca dan tingkat kerusakan jalan.

“Kalau kondisi jalan seperti ini, biaya angkut kopi tentu sangat mahal. Bayangkan saja kalau hasil panen sampai satu ton, petani harus mengeluarkan sekitar Rp5 juta hanya untuk ongkos angkut,” ungkap Imelda kepada wartawan, Senin (2/2/2026).

Biaya tersebut, menurut Imelda, sangat memberatkan petani kecil.

Keuntungan yang seharusnya bisa digunakan untuk kebutuhan keluarga atau modal tanam berikutnya, justru habis di perjalanan.

BACA JUGA: Ojol Palembang Dibegal Siang Hari, Motor Raib di Jalan Malaka

Masalah Lama yang Belum Tuntas

Kerusakan jalan Cinto Mandi – Langgar Jaya – Damar Kencana sejatinya bukan persoalan baru.

Jalan ini sudah lama belum tersentuh pembangunan akibat keterbatasan anggaran Pemerintah Kabupaten Kepahiang.

Sempat ada harapan ketika pembangunan jalan direncanakan menggunakan dana pinjaman daerah PT. SMI, namun hingga kini realisasinya belum juga tuntas.

Akibatnya, setiap musim hujan tiba, keluhan petani selalu berulang.

Jalan semakin rusak, kendaraan pengangkut sering terjebak, dan waktu tempuh menjadi jauh lebih lama.

BACA JUGA: Jalan Rusak di OKI Akhirnya Disulap! Gubernur Sumsel Turun Tangan, Anggaran Rp371 M Digelontorkan

“Bertahun-tahun petani pasti merasakan mahalnya ongkos angkut kopi karena kondisi jalan rusak parah, apalagi saat hujan. Kami berharap pemerintah benar-benar memperhatikan kondisi ini,” ujar Imelda.

Harapan Besar ke Pemerintah Daerah

Di tengah keluhan petani, secercah harapan masih terbuka.

Pemerintah Kabupaten Kepahiang diketahui tengah memperjuangkan pembangunan jalan Langgar Jaya melalui program Instruksi Presiden Jalan Daerah (IJD).

Bupati Kepahiang, H. Zurdinata, S.Ip, telah mengusulkan pembangunan jalan tersebut agar dapat segera direalisasikan oleh pemerintah pusat.

Bagi petani, pembangunan jalan ini bukan hanya soal infrastruktur, tetapi menyangkut keberlangsungan hidup.

BACA JUGA: Akhirnya! Jalan Rusak Talang Siku–Sungai Lilin Mulai Diperbaiki Setelah Lama Dikeluhkan Warga

Akses jalan yang baik diyakini akan menekan biaya produksi, meningkatkan daya saing kopi Kepahiang, serta mendorong pertumbuhan ekonomi desa.

Jalan Bukan Sekadar Aspal

Bagi masyarakat Langgar Jaya dan sekitarnya, jalan adalah urat nadi kehidupan.

Setiap lubang dan genangan air bukan sekadar kerusakan fisik, tetapi simbol dari beratnya perjuangan petani menjaga roda ekonomi tetap berputar.

Kini, para petani hanya bisa berharap agar usulan pembangunan segera membuahkan hasil.

Sebab bagi mereka, jalan yang layak bukan kemewahan—melainkan kebutuhan mendasar untuk bertahan hidup. (*/red)