“Kalau kita tak bangun sekarang, Bundesliga bisa berubah menjadi semacam liga pelatihan untuk liga-liga besar,” ujarnya.
Eks penjaga gawang yang juga pernah menjabat CEO Bayern itu menilai kesenjangan finansial menjadi sumber utama masalah.
Pendapatan terbatas, kebijakan investasi yang terlalu kaku, dan penolakan terhadap investor dianggap membuat Bundesliga sulit tumbuh.
Tradisi Tak Harus Hilang, tapi Harus Adaptif
Meski mendesak perubahan, Kahn menegaskan bahwa membuka diri terhadap investasi bukan berarti menjual klub ke investor asing.
Menurutnya, yang dibutuhkan adalah model baru yang bisa menjaga nilai klub sambil menciptakan sumber daya finansial berkelanjutan.
“Menjual tradisi bukan solusinya. Tapi mencari cara agar klub tetap bernilai dan bisa tumbuh, itu tugas klub profesional,” jelasnya.
Komentar ini muncul di tengah kontroversi rencana DFL (Deutsche Fußball Liga) yang sempat menuai protes suporter karena membuka kemungkinan investasi eksternal.
Kahn menganggap perdebatan itu sehat, tapi mengingatkan bahwa waktu untuk bertindak semakin sempit.
Kane Ikut Menyoroti Perbedaan Liga
Bukan hanya Kahn, Harry Kane — striker Bayern yang datang dari Tottenham — juga menyoroti perbedaan antara Premier League dan Bundesliga.
BACA JUGA: Klub Legendaris Portugal Terancam Didepak dari Liga Regional
Menurut kapten timnas Inggris itu, gaya bermain di Jerman lebih terbuka dan ofensif, tapi secara organisasi dan komersial, Premier League jauh lebih matang.
“Atmosfer Bundesliga luar biasa, tapi Premier League punya jangkauan global yang tak tertandingi,” ujar Kane.
Pernyataan Kane sejalan dengan kekhawatiran Kahn bahwa Bundesliga mulai kehilangan daya tarik internasional dan kesulitan menarik pemain top dunia.
Dari Kejayaan ke Ketertinggalan
Dalam satu dekade terakhir, hanya Bayern Munich (2020) dan Eintracht Frankfurt (2022) yang mampu menjuarai kompetisi Eropa. Sementara itu, klub-klub Inggris dan Spanyol terus mendominasi.





