Palembang, LintangPos.com– Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) kembali mencatat sejarah penting dalam dunia pertanian nasional dengan menjadi tuan rumah Gebyar Pembenihan Tanaman Pangan Nasional X yang berlangsung di kompleks Jakabaring Sport City (JSC) Palembang.
Acara yang digelar meriah ini dihadiri 398 delegasi dari 28 provinsi. Gubernur Sumsel, Dr H Herman Deru SH MM, secara resmi meluncurkan Gerakan Sumsel Mandiri Benih, sebuah inisiatif besar yang ditujukan untuk mewujudkan kemandirian benih dan mendukung program swasembada pangan nasional.
“Kita berkesempatan menjadi tuan rumah acara yang memikirkan nasib petani. Sumsel mengambil peluang besar ini dengan meluncurkan Gerakan Sumsel Mandiri Benih,” tegas Deru.
Deru mengungkapkan, kebutuhan benih nasional saat ini mencapai 370 ribu ton per tahun. Sementara Sumsel sendiri membutuhkan sekitar 27 ribu ton, namun produksi benih unggul lokal baru mencapai 8 ribu ton.
“Peluang masih sangat terbuka lebar bagi pembudidaya benih di Sumsel. Saya berharap Kementerian Pertanian terus mengawasi mutu benih agar kualitas pertanian meningkat,” jelasnya.
Ia juga menyoroti peran disiplin petani dalam meningkatkan hasil panen. Dengan mencontohkan program demplot teknologi Korea Selatan, hasil panen bisa naik dari 6 ton menjadi 12 ton per hektare hanya karena disiplin dalam penerapan waktu dan cara tanam.
BACA JUGA: Herman Deru Tegaskan Pembangunan Sumsel Harus Berdasarkan Data Akurat BPS
Selain fokus pada ketersediaan benih, Gubernur juga menekankan pentingnya menekan angka kehilangan hasil panen (losses) yang masih tinggi, sekitar 11 persen.
“Penyuluh harus aktif. Saya sudah angkat 2.000 penyuluh, mereka harus terlibat langsung dalam mendampingi petani agar losses bisa ditekan di bawah 5 persen,” ujarnya.
Dirjen Tanaman Pangan Kementan, Dr Yudi Sastro, yang hadir dalam acara menegaskan pentingnya kualitas, ketersediaan, dan distribusi benih tepat waktu.
“Kalau salah pilih benih, satu musim tanam bisa gagal. Karena itu harus bersertifikat dan diproduksi oleh ahlinya,” tegas Yudi.
Kementan menaruh harapan besar pada Sumsel sebagai motor penggerak kemandirian benih nasional. “Sumsel salah satu provinsi dengan target tertinggi dalam program swasembada beras, jagung, dan gula. Kami bangga gebyar kali ini diselenggarakan di sini,” tambahnya.
Gebyar ini juga diramaikan dengan pameran varietas benih, seminar nasional, serta kunjungan ke lahan percontohan padi apung seluas 3 hektare di kawasan JSC. Teknologi tersebut dianggap potensial untuk lahan pasang surut yang luas di Sumsel.
BACA JUGA: Herman Deru Raih Penghargaan Mitra Strategis dari BKN RI
Kepala Dinas Pertanian Sumsel, Bambang Pramono, menyampaikan bahwa dari total 621 ribu hektare sawah di Sumsel, baru 20 persen kebutuhan benih dipenuhi oleh produksi lokal. Targetnya, 100 persen kebutuhan bisa dipenuhi pada 2029 melalui gerakan mandiri benih.
Dalam acara itu juga dilakukan penandatanganan MoU kerja sama produksi benih dengan sejumlah provinsi, seperti Jawa Timur dan Lampung. Mereka berkomitmen menanam dan memproduksi benih langsung di Sumsel dengan dukungan APBD dan APBN.
Data BPS mencatat, produksi gabah Sumsel naik dari 2,7 juta ton pada 2024 menjadi 3,3 juta ton pada 2025. Namun indeks pertanaman masih 1,1, yang berarti sebagian besar petani hanya menanam sekali dalam setahun.
“Kalau bisa ditingkatkan menjadi 1,5, produksi beras Sumsel bisa tembus 5 juta ton gabah kering giling per tahun,” ujar Bambang.
Dengan semangat gotong royong dan dukungan pemerintah pusat serta daerah, Sumsel optimistis menjadi pionir kemandirian benih nasional. (*/red)





