“Kapal itu ibarat kendaraan yang mengantarkan arwah pulang. Setelah didoakan, mereka menaiki kapal untuk kembali ke alamnya masing-masing,” tutur Halim.
Puncak Ritual: Api Membawa Harapan
Malam puncak menjadi momen yang paling sakral. Replika kapal, rumah, dan Popokon dibakar di halaman belakang vihara.
BACA JUGA: Gubernur Sumsel Herman Deru Hadiri Maulid Nabi di Musholla Al-Huda
Api yang berkobar dipercaya sebagai perantara agar arwah dapat lahir kembali di alam bahagia.
“Selain mengantarkan arwah, pembakaran kapal juga menjadi penutup rangkaian sembahyang Ulambana. Simbol raja setan ikut dibakar, melambangkan pelepasan dan pembersihan,” tambah Halim.
Makna Filosofis dari Ulambana
Tradisi Ulambana berakar pada kisah seorang murid Buddha Gautama yang berusaha menolong ibunya dari alam rendah.
Meski berbagai cara dilakukan, ia tetap gagal hingga akhirnya mendapat petunjuk dari Sang Buddha.
Dari kisah itu lahir ajaran bahwa bakti seorang anak kepada orangtua tidak cukup hanya dengan doa pribadi, melainkan harus melalui kebajikan berupa derma kepada sangha atau komunitas bhiksu.
BACA JUGA: Nazwal Ardani Resmi Dilantik sebagai Kepala Kemenag Empat Lawang
Kebajikan inilah yang dipercaya mampu menolong leluhur agar terangkat ke alam yang lebih baik.
“Tradisi ini diwariskan turun-temurun, menjadi wujud bakti dan cinta kasih kepada orangtua serta leluhur. Hingga kini, umat Buddha tetap menjaga ritual ini sebagai bentuk penghormatan dan doa bagi mereka yang telah tiada,” pungkas Halim dengan penuh makna. (*/red)








