Ia memberikan contoh investor dari Turki maupun Korea yang berpotensi masuk langsung ke daerah seperti Lahat, tetapi menurutnya masih menghadapi rantai prosedur yang panjang.
Kondisi tersebut, kata Bursah, dapat menghambat pemerintah kabupaten dalam melakukan inovasi dan mencari skema creative financing untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Ia juga mendorong agar pemerintah daerah diberi ruang lebih besar untuk mengembangkan industri pendukung sektor pertanian, termasuk alat dan mesin pertanian (alsintan).
BACA JUGA: Sambut PEDA KTNA 2025, Wabup Empat Lawang Pimpin Aksi Bersih-Bersih Pulo Mas
Menurut Bursah, sejumlah teknologi alat pertanian yang tidak tergolong teknologi tinggi sebenarnya dapat dikembangkan di dalam negeri melalui kerja sama maupun adaptasi teknologi dari negara lain.
“Yang bukan teknologi tinggi itu bisa dilakukan,” ujarnya.
Ia menilai pengembangan produksi alat pertanian di daerah berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap pembelian dari luar sekaligus membuka peluang ekonomi baru. (*/gia)
Petani mengeluhkan irigasi rusak yang membuat air tak sampai ke hilir selama bertahun-tahun dan meminta…
Proyek Sekolah Rakyat Empat Lawang senilai sekitar Rp300 miliar disorot setelah sejumlah pekerja mengeluhkan pembayaran…
Bupati Empat Lawang mengecek Sekolah Rakyat dan memastikan persiapan MPLS 7 September 2026 mencapai 90…
Kajari Empat Lawang Yuli Andri menjelaskan perbedaan Hari Lahir Kejaksaan 2 September dan Hari Bhakti…
Kejari Empat Lawang menggelar syukuran Hari Lahir ke-81 Kejaksaan Republik Indonesia. Bupati Joncik Muhammad menekankan…
Reminder bersama Abu Marlo dan Sandra Novita mengajak pendengar memahami bahwa rasa sakit akibat perkataan…
View Comments