Kondisi tersebut, kata Bursah, dapat menghambat pemerintah kabupaten dalam melakukan inovasi dan mencari skema creative financing untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Ia juga mendorong agar pemerintah daerah diberi ruang lebih besar untuk mengembangkan industri pendukung sektor pertanian, termasuk alat dan mesin pertanian (alsintan).
BACA JUGA: Sambut PEDA KTNA 2025, Wabup Empat Lawang Pimpin Aksi Bersih-Bersih Pulo Mas
Menurut Bursah, sejumlah teknologi alat pertanian yang tidak tergolong teknologi tinggi sebenarnya dapat dikembangkan di dalam negeri melalui kerja sama maupun adaptasi teknologi dari negara lain.
“Yang bukan teknologi tinggi itu bisa dilakukan,” ujarnya.
Ia menilai pengembangan produksi alat pertanian di daerah berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap pembelian dari luar sekaligus membuka peluang ekonomi baru. (*/gia)







