Saat itu, Ancelotti memutuskan menarik keluar Fernando Torres—pemain anyar dengan label transfer fantastis £50 juta—lebih awal.
Keputusan itu ternyata dianggap Abramovich sebagai penghinaan pribadi.
“Torres jelas kehilangan kepercayaan diri. Tapi menggantinya di tengah pertandingan membuat Abramovich marah besar. Itu seperti menantang sang pemilik secara langsung,” tulis Ancelotti.
BACA JUGA: Kanwil Kemenkum Sumsel Dukung Penguatan Akses Keadilan bagi Masyarakat Miskin
Tak lama setelah kekalahan dari United, nasib Ancelotti memang sudah bisa ditebak.
Bahkan, menurut pengakuannya, malam sebelum laga leg kedua, Abramovich sudah memperingatkan bahwa akan ada perubahan besar jika Chelsea tersingkir.
“Dia bilang, jika kami kalah, saya sebaiknya tidak usah kembali keesokan harinya,” kenang pelatih asal Italia itu.
Puncaknya, setelah kekalahan di laga terakhir Premier League melawan Everton, Ancelotti resmi dipecat.
Ironisnya, satu musim kemudian Chelsea justru berhasil menjuarai Liga Champions bersama Roberto Di Matteo—yang kemudian juga merasakan pedihnya dipecat enam bulan setelahnya.
Kini, lebih dari tiga tahun sejak Abramovich terpaksa melepas Chelsea ke konsorsium Todd Boehly dengan harga £4,25 miliar, kisah-kisah seperti ini tetap hidup.
BACA JUGA: Warga Lubuk Linggau Timur Diamankan Polisi Usai Aniaya Pria di Jalan
Sosok Abramovich selalu dikenang bukan hanya karena trofi yang ia hadirkan, tetapi juga karena pendekatannya yang dingin dan tegas terhadap siapa pun yang duduk di kursi manajer. (*/red)






