Datang Mau Liputan, Pulang Berdarah-darah! Kisah Suharman yang Diduga Dikeroyok Warga Ogan Ilir Gara-Gara Disangka Merekam Musdes

oleh -221 Dilihat
oleh
Suharman diduga dikeroyok warga Ogan Ilir karena disangka merekam Musdes tanpa izin. Ia luka-luka dan melapor ke polisi, sementara kades memberi versi berbeda, Kamis (20/11/2025). Foto: Istimewa

Ringkasan Berita:

° Seorang pria bernama Suharman (41) diduga dikeroyok warga Desa Embacang, Ogan Ilir, setelah dituduh merekam rapat Musdes tanpa izin.

° Ia mengalami luka-luka dan melapor ke Polda Sumsel.

° Kades membantah memerintahkan pengeroyokan, menyebut warga emosi karena tidak mengenal korban.


OGAN ILIR, LINTANGPOS.com – Di sebuah siang yang mestinya biasa saja, suasana Desa Embacang, Kecamatan Lubuk Keliat, Ogan Ilir, mendadak berubah panas. Pada Selasa (4/11/2025) sekitar pukul 13.30 WIB, seorang pria bernama Suharman (41) mengaku jadi korban pengeroyokan setelah warga menuduhnya merekam rapat Musyawarah Desa (Musdes) tanpa izin.

Suharman, yang bukan warga setempat melainkan berasal dari Kecamatan Tanjung Batu, datang dengan niat melakukan peliputan.

Namun, kunjungannya berubah menjadi pengalaman traumatis yang berujung laporan polisi.

Ia bercerita, awalnya mendatangi rumah salah satu ketua RT di Desa Embacang.

Dari situ, ia diajak menuju Balai Desa. Belum lama berada di lokasi, telepon berulang masuk dari kepala desa, Sarnudi, yang menurutnya bernada mengancam.

“Ditelepon dengan nada tidak pantas, ‘sini bae kau… agek kau mati’. Sesampainya di rumahnya, saya langsung dipukuli ramai-ramai,” ujar Suharman saat ditemui di SPKT Polda Sumsel, Kamis (20/11/2025).

BACA JUGA: Kapolsek Turun Gunung! Siswa SMA Negeri 1 Lintang Kanan Ikuti Sosialisasi Anti-Kenakalan Remaja

Ia mengaku dipaksa mengakui maksud kedatangannya.

Bila tidak, ancamannya jelas: dibunuh. Ia menceritakan bagaimana dirinya dibawa menggunakan motor, dipukul, lalu diseret kembali ke desa.

“Mereka memaksa saya mengaku. Padahal HP saya lowbat dan ada di tas, mana bisa saya rekam-rekam,” katanya.

Akibat kejadian itu, ia mengalami luka robek di kaki, memar di dada, dan benturan di kepala.

Ia harus menjalani perawatan medis sebelum akhirnya membuat laporan polisi bernomor STTLP/B/1592/XI/2025/SPKT/Polda Sumsel, melaporkan Sarnudi dan beberapa orang lain dengan dugaan tindak pidana pengeroyokan (Pasal 170 KUHP).

Namun versi berbeda datang dari sang kepala desa, Sarnudi.

BACA JUGA: Bocor! Enam HP Samsung 2026 Terkuak: Ada Kejutan di Lini Galaxy S dan Z

Ia menegaskan bahwa warga justru kaget dan curiga karena tidak mengenali Suharman yang tiba-tiba muncul saat Musdes sedang berlangsung di kantor desa.

“Orang heran, ini siapa? Kok tiba-tiba datang dan memvideokan rapat yang khusus warga. Disuruh keluar tidak mau, makanya warga emosi,” ujar Sarnudi kepada wartawan.

Menurutnya, perangkat desa tak menutup diri dari publik, tetapi gerak-gerik Suharman dianggap mencurigakan.

Perdebatan dan penolakan disebut menjadi pemicu kekacauan hingga rapat pun akhirnya batal.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Sumsel, Kombes Nandang Mukmin Wijaya, mengatakan pihaknya akan memeriksa laporan tersebut.

“Nanti saya cek dulu, laporannya tanggal 12 November,” ujarnya singkat.

BACA JUGA: PWI Pusat Prihatin: Pencabutan Kartu Liputan Istana Dinilai Ancam Kemerdekaan Pers

Kini kasus ini menjadi perhatian publik, bukan hanya soal dugaan pengeroyokan, tetapi juga bagaimana miskomunikasi di tingkat desa bisa berujung pada kekerasan.

Suharman berharap laporannya dapat menguak kebenaran dan memberi rasa aman bagi siapa pun yang bekerja di lapangan. (*/red)