Irsyad, salah satu warga Perumnas Graha Emas, mengungkapkan situasi mencekam tersebut.
BACA JUGA: Usai Nataru, Pagar Alam Dibanjiri Durian dari Empat Lawang
“Air mulai masuk ke rumah-rumah sekitar pukul setengah dua dini hari. Saat itu warga langsung siaga karena khawatir air terus naik,” ujarnya.
Beruntung, intensitas hujan berangsur menurun sehingga debit air tidak terus bertambah.
Banjir kali ini dilaporkan relatif lebih ringan dibandingkan kejadian pada tahun-tahun sebelumnya.
Keberadaan tembok penahan banjir dinilai cukup efektif menahan luapan air agar tidak mencapai ketinggian ekstrem.
Memasuki pagi hari, genangan air mulai surut seiring berhentinya hujan.
Aktivitas warga perlahan kembali normal meskipun kekhawatiran masih membayangi, mengingat puncak musim penghujan awal 2026 masih berpotensi memicu cuaca ekstrem.
Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Kabupaten Empat Lawang, Fero Ananta, memastikan pihaknya telah menurunkan tim ke lokasi untuk melakukan pemantauan dan penanganan awal.
Ia menegaskan bahwa tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
“Penyebab utama banjir adalah curah hujan yang tinggi disertai luapan anak sungai. Saat ini kondisi air mulai surut, namun warga tetap kami imbau untuk bersiaga,” kata Fero.
BPBD juga mengingatkan masyarakat yang tinggal di kawasan rawan banjir untuk terus memantau kondisi cuaca serta menyiapkan langkah antisipasi apabila hujan kembali turun dengan intensitas tinggi. (*/red)






