Godzilla El Nino 2026 Ancam Kesehatan, Ini Bahaya Nyatanya!

oleh -79 Dilihat
oleh
El Nino 2026 berpotensi picu krisis kesehatan multidimensi. Waspadai panas ekstrem, polusi, dan kekeringan berkepanjangan. (*/Ilustrasi)

JAKARTA, LINTANGPOS.com – Fenomena El Nino yang diprediksi mulai terasa pada April 2026 bukan lagi sekadar isu perubahan cuaca biasa.

Sejumlah ahli bahkan menyebutnya sebagai “Godzilla El Nino”—sebuah istilah yang menggambarkan besarnya potensi dampak yang ditimbulkan, khususnya terhadap kesehatan masyarakat.

Peringatan ini datang dari epidemiolog Dicky Budiman dari Griffith University yang menilai bahwa El Nino kali ini memiliki karakter lebih kompleks dibandingkan sebelumnya.

Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh hanya melihat fenomena ini dari sisi cuaca semata, tetapi juga dari ancaman kesehatan yang mengintai di baliknya.

Menurutnya, sejumlah lembaga termasuk BMKG telah memberikan sinyal bahwa El Nino berpotensi berkembang dari intensitas lemah menjadi kuat.

Hal ini dapat memicu musim kemarau yang lebih panjang, bahkan melampaui pola normal tahunan di Indonesia.

BACA JUGA: Awan Gelap Menggantung di Sumsel! BMKG Ungkap Biang Kerok Cuaca Ekstrem Sepekan ke Depan

Ancaman Berlapis yang Tak Terlihat

Salah satu aspek yang paling mengkhawatirkan dari fenomena ini adalah munculnya kondisi yang disebut sebagai “multi hazard.” Istilah ini merujuk pada kombinasi berbagai ancaman yang terjadi secara bersamaan dan saling memperparah dampaknya.

Dalam konteks El Nino 2026, multi hazard itu meliputi suhu panas ekstrem, kekeringan berkepanjangan, penurunan kualitas udara, hingga pola hujan yang tidak menentu.

Kombinasi ini menciptakan tekanan besar terhadap sistem kesehatan masyarakat.

“Ini bukan hanya soal panas. Ini gabungan dari panas, udara kering, polusi, dan hujan sporadis. Semua itu berdampak langsung pada kesehatan manusia,” jelas Dicky.

Kondisi panas ekstrem, misalnya, dapat meningkatkan risiko dehidrasi, kelelahan panas (heat exhaustion), hingga heat stroke yang berpotensi fatal.

BACA JUGA: Status Siaga! Muba Dikepung Ancaman Cuaca Ekstrem hingga 2026, Warga Diminta Siap Setiap Saat

Kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan pekerja luar ruangan menjadi pihak yang paling terdampak.

Di sisi lain, kekeringan yang berkepanjangan juga berdampak pada ketersediaan air bersih.

Hal ini bisa memicu peningkatan penyakit berbasis air dan sanitasi yang buruk, seperti diare dan infeksi kulit.

Kualitas Udara Memburuk

Ancaman lain yang tak kalah serius adalah penurunan kualitas udara.

Cuaca kering berkepanjangan sering kali meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, yang pada akhirnya menghasilkan kabut asap.

BACA JUGA: Cuaca Ekstrem Terjang Palembang dan OKU, Pohon Tumbang hingga Atap Rumah Rusak

Situasi ini pernah dialami Indonesia pada tahun-tahun sebelumnya, dan dampaknya sangat luas.

Paparan polusi udara dalam jangka panjang dapat memperburuk penyakit pernapasan seperti asma, bronkitis, dan bahkan meningkatkan risiko penyakit jantung.

Dalam kondisi multi hazard, risiko ini menjadi berlipat ganda karena tubuh juga sedang menghadapi stres akibat suhu tinggi.

Hujan Tak Menentu, Risiko Penyakit Baru

Menariknya, El Nino tidak selalu identik dengan kekeringan total.

Dalam beberapa kasus, hujan justru turun secara sporadis dan tidak menentu.

BACA JUGA: BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem, Empat Lawang Masuk Daerah Rawan Longsor

Kondisi ini menciptakan genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

Akibatnya, penyakit seperti demam berdarah dengue (DBD) berpotensi meningkat.

Ketidakpastian pola hujan juga menyulitkan masyarakat dalam mengantisipasi perubahan lingkungan, yang pada akhirnya memperbesar risiko kesehatan.

Perlu Kesiapsiagaan Kolektif

Menghadapi fenomena ini, para ahli menekankan pentingnya kesiapsiagaan sejak dini.

Edukasi masyarakat menjadi kunci utama untuk meminimalkan dampak kesehatan.

BACA JUGA: Hujan Ekstrem Bikin Jalan Provinsi Empat Lawang Ambles

Langkah sederhana seperti menjaga hidrasi, menghindari paparan panas berlebih, menggunakan masker saat kualitas udara buruk, serta memastikan sanitasi lingkungan tetap terjaga bisa menjadi benteng pertama perlindungan.

Di tingkat kebijakan, pemerintah diharapkan memperkuat sistem peringatan dini, meningkatkan layanan kesehatan, serta memastikan distribusi air bersih dan logistik berjalan lancar selama periode kemarau panjang.

Fenomena “Godzilla El Nino” bukan sekadar istilah dramatis, melainkan sinyal bahwa ancaman yang datang bersifat nyata dan kompleks.

Tanpa kesiapan yang matang, dampaknya bisa meluas, tidak hanya pada lingkungan tetapi juga pada kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan.

Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah El Nino akan datang, tetapi seberapa siap kita menghadapinya. (*/red)

CEK BERITA LINTANGPOS.com di Google Search