“Di tingkat petani masih di kisaran Rp 2.900 per kilo. Selisihnya sekitar Rp 500 dibandingkan harga pabrik,” ujar Ridwan.
Menurut Ridwan, perbedaan harga tersebut bukan tanpa alasan. Proses penjualan buah sawit dari kebun hingga ke pabrik membutuhkan biaya tambahan yang tidak sedikit.
Mulai dari ongkos panen, biaya menaikkan buah ke truk, hingga ongkos angkut ke pabrik menjadi faktor utama yang menekan harga di tingkat petani.
“Belum lagi kalau kebunnya jauh dari jalan besar atau pabrik. Ongkos angkut bisa lebih mahal,” jelasnya.
Beban Biaya Masih Jadi Keluhan
BACA JUGA: Terbongkar! Warga Bangun Jaya Ditangkap Tengah Malam, Simpan Sajam & Curi Sawit
Kondisi ini membuat sebagian petani mengaku belum sepenuhnya merasakan dampak positif dari kenaikan harga TBS di pabrik. Bagi petani skala kecil, selisih Rp 400–Rp 500 per kilogram cukup signifikan, terutama jika hasil panen tidak terlalu banyak.
Ridwan menambahkan, meski harga sawit saat ini terbilang lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, biaya operasional yang terus meningkat membuat keuntungan petani tetap terbatas.
“Solar mahal, ongkos buruh naik, pupuk juga mahal. Jadi meskipun harga sawit naik, hasil bersihnya belum tentu ikut naik,” katanya.
Harapan Petani di Tengah Tren Positif
Meski masih menghadapi berbagai tantangan, para petani tetap berharap tren kenaikan harga sawit ini bisa berlanjut hingga beberapa bulan ke depan.
Kestabilan harga dinilai sangat penting agar petani bisa menutup biaya produksi dan mendapatkan keuntungan yang layak.
BACA JUGA: 10 Hari Hilang, Warga Gempar Saat Temukan Mayat di Kebun Sawit Megang Sakti!
“Harapan kami harga ini bisa bertahan, jangan cuma naik sebentar lalu turun lagi,” ujar Ridwan.
Senada dengan itu, Anwar juga menilai bahwa jika kondisi pasar global dan permintaan ekspor tetap stabil, harga sawit berpotensi bertahan di level saat ini atau bahkan naik tipis.
“Biasanya kalau sudah naik di akhir Januari, ada peluang bertahan sampai Maret. Tapi semua tergantung kondisi pasar,” katanya.
Sawit Masih Jadi Andalan Ekonomi Daerah
Kelapa sawit hingga kini masih menjadi komoditas unggulan dan tulang punggung perekonomian masyarakat di Kabupaten OKU.





