Tidak adanya trackpad dan bobot yang cukup tebal membuatnya kurang praktis.
Sebaliknya, M-Pencil Pro yang dijual terpisah justru mencuri perhatian: 16.384 level tekanan, gesture rotasi, double-tap, dan fitur pinch (meski tak selalu akurat).
Dalam hal hardware stylus, Huawei bahkan dianggap lebih unggul dari Samsung S Pen.
Software: Titik Lemah yang Membuat Galau
Masalah terbesar MatePad 12 X tetap sama: absennya Google Play Services akibat pembatasan AS.
Pengguna harus mengandalkan AppGallery atau menginstal APK secara manual—metode yang tak selalu stabil dan memakan waktu.
Platform seperti YouTube, Netflix, dan Disney+ hanya dapat diakses melalui browser.
Ini menjadi hambatan besar bagi pekerja kreatif yang bergantung pada aplikasi profesional populer.
BACA JUGA: Jangan Tertipu IP68! Fakta Mengejutkan Soal Ketahanan Air Ponsel yang Jarang Diungkap Produsen
Meski begitu, Huawei memberi pengalaman menggambar yang memuaskan lewat aplikasi bawaan seperti GoPaint dan M-Pencil Zone, yang disebut memberikan sensasi mirip Procreate.
Kesimpulan: Pilihan Cerdas atau Bumerang?
MatePad 12 X menawarkan hardware spektakuler untuk harga yang relatif bersahabat: layar matte antirefleksi, baterai besar, speaker kuat, dan stylus sangat responsif.
Namun, keterbatasan software membuatnya terasa tidak lengkap.
Tablet ini cocok untuk kreator yang fokus pada drawing, pelajar yang tak terlalu bergantung pada aplikasi Google, atau pengguna yang siap melakukan workaround demi memanfaatkan hardware yang kuat.
Namun bagi mayoritas konsumen yang ingin kenyamanan dan ekosistem lengkap, MatePad 12 X bisa jadi terasa “kurang matang” meski potensinya sangat besar. (*/red)





