Hujan Januari Jadi Berkah, Sawah di Tebing Tinggi Mendadak Hijau Kembali

oleh -100 Dilihat
oleh
Curah hujan Januari 2026 jadi momentum emas petani Tebing Tinggi Empat Lawang memulai masa tanam. Sawah hijau, harapan panen dan kesejahteraan pun tumbuh, Selasa (27/1/2026). Foto: Istimewa

Ringkasan Berita:

Hujan yang turun konsisten sepanjang Januari 2026 membawa berkah bagi petani Kecamatan Tebing Tinggi, Empat Lawang. Sawah yang sempat kering kini menghijau. Petani kompak memulai masa tanam demi panen optimal dan stabilitas beras lokal.


EMPAT LAWANG, LINTANGPOS.com – Hujan yang turun tanpa jeda sepanjang Januari 2026 menjadi anugerah tersendiri bagi para petani di Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Empat Lawang.

Setelah berbulan-bulan menghadapi lahan kering dan retakan tanah yang mengkhawatirkan, kini hamparan sawah perlahan berubah warna.

Hijau muda mulai mendominasi lanskap pedesaan, menandai dimulainya harapan baru bagi masyarakat agraris di wilayah tersebut.

Bagi petani Empat Lawang, air hujan bukan sekadar fenomena alam yang datang dan pergi.

Hujan adalah urat nadi kehidupan. Setiap tetesnya menjadi penentu keberhasilan tanam, panen, hingga keberlanjutan ekonomi keluarga.

Tak heran, ketika hujan turun konsisten sejak awal Januari, para petani langsung “tancap gas” memulai masa tanam secara serentak.

BACA JUGA: Sumsel Kembangkan Teknologi Padi Apung untuk Tingkatkan Produksi di Lahan Rawa

Pantauan di sejumlah persawahan Tebing Tinggi menunjukkan aktivitas petani meningkat drastis.

Suara mesin traktor bersahut-sahutan sejak pagi hingga sore hari.

Lumpur sawah yang lengket tak menyurutkan semangat para petani yang berjibaku menyiapkan lahan.

Momentum musim penghujan ini dimanfaatkan seoptimal mungkin agar padi tumbuh dengan suplai air yang cukup hingga masa panen nanti.

Malik, salah seorang petani lokal di Tebing Tinggi, mengungkapkan bahwa jadwal tanam kali ini memang sengaja diselaraskan dengan puncak musim hujan.

Menurutnya, keputusan tersebut diambil berdasarkan pengalaman bertahun-tahun mengelola sawah tadah hujan.

BACA JUGA: Jasindo dan Dinas Pertanian OKU Teken Kerja Sama Bantuan Premi 100 Persen Asuransi Usaha Tani Padi

“Sekarang sudah masuk jadwalnya. Karena hujan sudah turun rutin, air di sawah jadi melimpah. Inilah waktu paling pas untuk turun ke sawah,” ujar Malik saat ditemui di sela-sela aktivitasnya, Senin (26/1/2026).

Sebagian besar sawah di Kecamatan Tebing Tinggi masih mengandalkan air hujan atau irigasi sederhana yang mengikuti debit sungai.

Kondisi ini membuat bulan Januari menjadi periode yang sangat krusial.

Jika petani terlambat menanam, risiko kekurangan air saat padi memasuki fase generatif sangat besar, yang pada akhirnya dapat menurunkan produktivitas hasil panen.

“Kalau telat tanam, nanti pas padi bunting airnya malah berkurang. Itu bisa bikin hasil panen tidak maksimal,” jelas Malik.

Oleh karena itu, persiapan lahan dilakukan secara intensif.

BACA JUGA: Bupati Joncik Muhammad Tanam Padi Perdana Program Cetak Sawah Rakyat di Muara Pinang

Proses pembajakan menjadi tahapan awal yang wajib dilalui sebelum penanaman bibit padi.

Dengan menggunakan traktor, tanah dibalik agar sisa-sisa gulma membusuk secara alami.

Proses ini bertujuan membuat tanah kembali gembur, kaya oksigen, dan siap menjadi media tanam yang ideal.

“Prosesnya mulai dari pembajakan lahan dulu supaya tanahnya subur kembali, setelah itu langsung kita tanami padi. Kita berharap cuaca terus mendukung sampai masa panen nanti,” tambah Malik dengan nada optimistis.

Tak hanya Malik, semangat serupa juga terlihat dari petani lainnya. Gotong royong masih menjadi ciri khas masyarakat pertanian di Empat Lawang.

Jadwal tanam yang dilakukan hampir bersamaan diyakini mampu meminimalkan serangan hama serta memudahkan pengelolaan air secara kolektif.

BACA JUGA: Gubernur Sumsel Keluhkan Infrastruktur Minim, Produksi Padi Terhambat

Para petani menargetkan panen raya dapat berlangsung dalam kurun waktu tiga hingga empat bulan ke depan, atau sekitar April hingga Mei 2026.

Jika cuaca tetap stabil dan tidak terjadi anomali iklim ekstrem, hasil panen diprediksi akan cukup melimpah.

Keberhasilan masa tanam di awal tahun ini bukan hanya berdampak pada petani, tetapi juga pada masyarakat luas.

Produksi padi yang stabil di tingkat lokal diyakini mampu menjaga harga beras tetap terkendali di pasar.

Di tengah fluktuasi harga bahan pokok secara nasional, panen yang baik di daerah menjadi penyangga penting bagi ketahanan pangan.

Bagi Kabupaten Empat Lawang yang dikenal dengan julukan Bumi Saling Keruani Sangi Kerawati, sektor pertanian masih menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat.

BACA JUGA: Sumsel Raih Apresiasi Kementan Berkat Inovasi Padi Apung

Setiap musim tanam yang berhasil berarti peningkatan kesejahteraan, keberlangsungan pendidikan anak-anak petani, hingga perputaran ekonomi desa.

Lebih dari sekadar aktivitas bercocok tanam, masa tanam Januari 2026 ini menjadi simbol optimisme.

Hujan yang turun konsisten seolah menghapus kekhawatiran petani akan kekeringan dan gagal panen.

Sawah yang kembali hijau menjadi saksi bahwa alam dan manusia masih bisa berjalan seiring, saling memberi dan menerima.

Jika cuaca tetap bersahabat, harapan akan panen raya bukan sekadar angan.

Bagi para petani Tebing Tinggi, setiap benih yang ditanam hari ini adalah doa yang dititipkan pada tanah, hujan, dan waktu—menunggu saatnya dituai sebagai hasil kerja keras dan keberkahan alam. (*/red)

CEK BERITA LINTANGPOS.com di Google Search 

No More Posts Available.

No more pages to load.