Ringkasan Berita:
° Operasi pencarian MH370 akan kembali digelar 30 Desember 2025.
° Ilmuwan Australia Vincent Lyne mengklaim menemukan lokasi pesawat di Samudra Hindia.
° Pemerintah Malaysia menggandeng Ocean Infinity dengan skema “no find, no fee” demi mengakhiri misteri terbesar dunia penerbangan.
JAKARTA, LINTANGPOS.com – Upaya mengungkap hilangnya pesawat Malaysia Airlines MH370 kembali memasuki babak baru.
Setelah lebih dari satu dekade menjadi teka-teki terbesar dunia penerbangan, pemerintah Malaysia memastikan operasi pencarian terbaru dimulai Selasa, 30 Desember 2025.
Langkah ini muncul di tengah klaim mengejutkan seorang ilmuwan Australia yang mengaku telah memetakan lokasi jatuhnya pesawat yang membawa 239 penumpang dan awak dalam penerbangan dari Kuala Lumpur menuju Beijing pada 8 Maret 2014.
Pemerintah Malaysia berharap pencarian ini menjadi akhir dari rangkaian spekulasi panjang yang membayangi tragedi tersebut.
Kontrak Unik: “No Find, No Fee”
Kementerian Transportasi Malaysia mengumumkan operasi pencarian akan berlangsung 55 hari dengan skema kontrak berbasis hasil bersama perusahaan eksplorasi maritim Ocean Infinity.
BACA JUGA: Dari OKU ke Nusa Penida! Siswi SMA 16 Tahun Dibawa Kabur Duda Naik Pesawat ke Bali
Dalam perjanjian ini, Malaysia hanya membayar US$70 juta (sekitar Rp1,1 triliun) apabila puing pesawat benar-benar ditemukan dan diverifikasi.
Ocean Infinity akan menyisir 15.000 kilometer persegi wilayah baru di Samudra Hindia.
Hingga kini, detail teknis pencarian masih dirahasiakan.
Ilmuwan Klaim Temukan Lokasi MH370
Perhatian dunia meningkat setelah Vincent Lyne, peneliti dari Institute for Marine and Antarctic Studies, University of Tasmania, mempublikasikan temuannya dalam artikel berjudul “Mystery of MH370 Solved by Science”.
Lyne menyebut MH370 berada di lubang sedalam 20.000 kaki di wilayah Broken Ridge, dataran besar di dasar Samudra Hindia bagian tenggara.
Ia meyakini pilot Zaharie Ahmad Shah sengaja mengarahkan pesawat menuju kawasan laut dalam yang terpencil dan terjal — lokasi yang ia sebut sebagai tempat “sempurna” untuk menghilangkan pesawat dari pelacakan.
“Temuan ini mengubah narasi hilangnya MH370,” ujar Lyne kepada Newsweek.
Ia menolak teori kehabisan bahan bakar dan menilai kecelakaan ini lebih terkait dengan kesalahan kalkulasi dan kontrol pesawat.
Menurutnya, lokasi itu berasal dari persimpangan garis bujur Bandara Penang dengan jalur penerbangan dari simulator pilot — rute yang sebelumnya dianggap tidak relevan oleh penyelidik.
“Lokasi itu perlu diverifikasi sebagai prioritas tinggi,” tegasnya.
Jejak Puing & Harapan Keluarga
Selama bertahun-tahun, sejumlah puing MH370 ditemukan di pesisir Afrika dan pulau-pulau Samudra Hindia.
Analisis pola hanyut membantu mempersempit wilayah pencarian, meski titik pasti pesawat masih menjadi rahasia.
Investigasi resmi Malaysia tahun 2018 menyimpulkan pesawat diputar balik secara manual, bukan oleh autopilot, dan tidak menutup kemungkinan adanya intervensi tidak sah.
Bagi keluarga korban, pencarian terbaru ini menyalakan kembali harapan yang lama meredup.
“Saya sangat berharap fase ini memberikan kejelasan dan kedamaian yang telah kami nantikan sejak 8 Maret 2014,” ujar Danica Weeks, istri salah satu penumpang, kepada Guardian.
Menanti Akhir Misteri Terbesar Dunia Penerbangan
BACA JUGA: Misteri Hilangnya Warga Gandus di Sungai Musi Terungkap
Dengan teknologi baru, klaim ilmiah yang semakin spesifik, dan komitmen pemerintah Malaysia, dunia kini menanti: akankah Desember 2025 menjadi penutup misteri MH370? (*/red)






