Jahe Kepahiang Terserang Penyakit, Petani Panen Dini dan Rugi Besar!

oleh -77 Dilihat
oleh
Petani jahe Kepahiang panen dini akibat busuk rimpang. Tanpa pendampingan, kualitas turun dan harga anjlok, memicu kerugian besar. Foto: Istimewa

Ringkasan Berita:

Serangan penyakit busuk rimpang memaksa petani jahe di Kabupaten Kepahiang melakukan panen prematur. Tanpa penyuluhan, kualitas jahe menurun drastis dan harga anjlok hingga Rp5.000 per kilogram, memperparah kerugian petani di tengah ancaman gagal panen komoditas lain.


KEPAHIANG, LINTANGPOS.com – Hamparan lahan jahe di Kabupaten Kepahiang yang biasanya hijau subur kini menyisakan kegelisahan.

Aroma rimpang segar yang lazim tercium saat musim panen berubah menjadi kekhawatiran, menyusul merebaknya penyakit busuk rimpang yang menyerang tanaman jahe milik petani.

Tanpa adanya pendampingan teknis dari pihak berwenang, para petani terpaksa mengambil langkah darurat: panen prematur.

Langkah tersebut jelas bukan pilihan ideal.

Dalam siklus pertanian normal, jahe baru layak dipanen setelah berusia 8 hingga 9 bulan pasca tanam agar ukuran rimpang, kadar pati, dan kualitasnya maksimal.

Namun kondisi di lapangan berkata lain. Sebagian besar petani di Kepahiang harus memanen jahe ketika usia tanaman baru menginjak 5 bulan, demi menyelamatkan sisa hasil sebelum membusuk total.

BACA JUGA: Petani Milenial Empat Lawang Panen Oyong Raksasa, Netizen Heboh!

Sugiman (45), petani jahe asal Desa Pelangkian, Kecamatan Kepahiang, masih mengingat jelas saat pertama kali melihat perubahan pada tanamannya.

Daun mulai menguning, batang tampak layu, dan sebagian tanaman menunjukkan tanda-tanda pembusukan dari pangkal.

“Awalnya saya kira kekurangan pupuk atau air. Tapi makin hari kondisinya makin parah. Kalau tidak dipanen cepat, bisa habis semua,” ujar Sugiman saat ditemui wartawan di kebunnya, baru-baru ini.

Dengan berat hati, Sugiman memutuskan memanen lahan jahe seluas 0,5 hektare lebih awal dari jadwal.

Keputusan itu diambil bukan untuk mengejar keuntungan, melainkan meminimalkan kerugian.

Ia menyadari bahwa jahe yang dipanen muda tidak akan memiliki kualitas optimal.

BACA JUGA: Harga Turun, Panen Kopi Empat Lawang Kian Dekat

Hasil pemeriksaan awal menunjukkan bahwa penyakit yang menyerang jahe tersebut disebabkan oleh jamur Fusarium oxysporum f.sp. zingiberi.

Patogen ini dikenal ganas karena menyerang sistem perakaran dan rimpang tanaman, menyebabkan jaringan membusuk dari dalam.

Jika tidak ditangani sejak dini, penyakit ini dapat memusnahkan satu hamparan lahan dalam waktu singkat.

“Kami sempat mengira ini virus. Tapi setelah melihat gejalanya lebih dekat, ternyata jamur. Yang bikin kami kesal, selama ini tidak pernah ada penyuluhan tentang penyakit seperti ini. Kami seperti dibiarkan belajar sendiri,” kata Sugiman dengan nada kecewa.

Ketiadaan penyuluhan dan pendampingan teknis menjadi sorotan utama para petani.

Banyak di antara mereka mengaku tidak memahami langkah pencegahan, pengendalian, maupun perlakuan pascapanen yang tepat saat tanaman terserang penyakit.

BACA JUGA: Dari Balik Jeruji Tumbuh Harapan! Lapas Empat Lawang Panen Keterampilan Lewat Program Melon Produktif

Dampak ekonomi dari panen prematur ini pun sangat terasa. Jahe hasil panen dini berukuran lebih kecil, teksturnya lebih lunak, dan kandungan patinya rendah.

Kondisi tersebut membuat harga jual jatuh bebas di tingkat pengumpul.

Suyatmi (39), petani jahe dari desa yang sama, mengungkapkan bahwa harga jahe yang biasanya bisa menembus Rp17.000 per kilogram kini hanya dihargai sekitar Rp12.000 per kilogram.

Bahkan, pada beberapa kasus, selisih harga bisa mencapai Rp5.000 per kilogram.

“Penggepul bilang kualitasnya tidak bagus karena dipanen terlalu muda. Tapi kami tidak punya pilihan lain. Kalau tidak dijual, kami tidak bisa menutup modal,” jelas Suyatmi.

Bagi petani kecil, selisih harga tersebut sangat berarti. Biaya bibit, pupuk, tenaga kerja, hingga perawatan selama berbulan-bulan kini tidak sebanding dengan hasil yang diterima.

BACA JUGA: Petani di Empat Lawang Rugi Rp70 Juta, Hasil Panen Kopi dan Lada Serta Tanaman Kayu Dicuri!

Sebagian petani bahkan terancam merugi dan kesulitan menyiapkan modal tanam untuk musim berikutnya.

Ironisnya, persoalan di sektor pertanian Kepahiang tidak berhenti pada jahe.

Pantauan wartawan di lapangan juga menemukan serangan serius pada komoditas lain, seperti cabai merah.

Sejumlah lahan cabai dilaporkan terserang virus Gemini, penyakit yang ditularkan oleh serangga vektor kutu kebul.

Virus ini menyebabkan daun cabai menguning, keriting, pertumbuhan terhambat, hingga gagal panen total.

Penyebarannya tergolong cepat dan dapat menjangkiti berbagai jenis tanaman sayuran dalam waktu singkat, terutama jika tidak diimbangi dengan pengendalian terpadu.

BACA JUGA: Perum BULOG dan Pemkab Muara Enim Tandatangani MoU Pembangunan Infrastruktur Pascapanen

Kondisi ini menambah daftar panjang tantangan yang dihadapi petani Kepahiang.

Minimnya edukasi, lemahnya sistem peringatan dini penyakit tanaman, serta ketergantungan petani pada pengalaman turun-temurun membuat mereka rentan saat menghadapi serangan organisme pengganggu tanaman.

Para petani berharap adanya perhatian serius dari dinas terkait, terutama dalam bentuk penyuluhan rutin, pendampingan lapangan, dan akses informasi mengenai pengendalian penyakit tanaman.

Tanpa itu, ancaman kerugian akan terus menghantui, dan sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi pedesaan kian terpinggirkan.

Di tengah ketidakpastian cuaca dan serangan penyakit, satu hal yang pasti: petani tidak bisa dibiarkan berjuang sendiri.

Tanpa dukungan nyata, panen prematur dan kerugian besar hanya akan menjadi cerita yang berulang dari satu musim ke musim berikutnya. (*/red)

CEK BERITA LINTANGPOS.com di Google Search