“Kalau tidak kami perbaiki sendiri, kami tidak bisa lewat. Apalagi saat musim hujan, air sungai sangat deras. Kami sangat was-was soal keselamatan. Ini akses utama kami,” ujarnya saat ditemui di lokasi gotong royong.
Ia juga menambahkan bahwa dana yang terkumpul merupakan hasil kontribusi sukarela dari masyarakat sekitar.
Meski jumlahnya terbatas, warga tetap berusaha memanfaatkannya seefektif mungkin demi memastikan jembatan bisa digunakan, walaupun hanya sementara.
Fenomena ini mencerminkan tingginya kepedulian sosial masyarakat desa, sekaligus menjadi potret nyata bagaimana keterbatasan tidak menghalangi semangat untuk bertahan.
BACA JUGA: Jembatan Mangkrak di Pagar Alam Disorot, Provinsi Diminta Turun Tangan
Namun di sisi lain, kondisi ini juga menjadi sorotan terhadap perlunya perhatian serius dari pemerintah daerah dan pihak terkait.
Warga berharap pembangunan jembatan tersebut segera dilanjutkan hingga tuntas.
Keberadaan jembatan yang layak bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga menyangkut keselamatan dan kelangsungan ekonomi masyarakat setempat.
Aktivitas pertanian yang menjadi sumber penghidupan utama sangat bergantung pada akses transportasi yang memadai.
Selain itu, masyarakat juga menuntut adanya pengawasan yang lebih ketat terhadap proyek pembangunan infrastruktur.
Mereka tidak ingin kejadian serupa kembali terulang di masa mendatang, di mana proyek yang seharusnya menjadi solusi justru berubah menjadi masalah baru.
Hingga kini, jembatan di Dusun Dua Pulau Tengah masih berdiri dalam kondisi setengah jadi, dengan tambahan perbaikan seadanya dari warga.
Di tengah keterbatasan, gotong royong menjadi satu-satunya jalan yang bisa ditempuh.
Namun harapan tetap ada—agar pemerintah segera hadir dan menuntaskan apa yang telah lama terbengkalai. (*/drl)






