Karya Sastra Sultan Palembang Lebih Tenar di Luar Negeri daripada di Kampung Halaman

oleh -521 Dilihat
oleh
Diskusi sastra Museum Keliling Palembang soroti minimnya apresiasi lokal terhadap karya SMB II yang justru banyak dikaji di luar negeri, Kamis (20/11/2025). Foto: Istimewa

Namun, Panji mengungkapkan satu ironi. Banyak manuskrip SMB II kini justru tersimpan dan dikaji di Belanda dan Malaysia.

“Penelitian lokal sangat sedikit. Kita seperti kehilangan hubungan dengan warisan kita sendiri,” ujarnya.

BACA JUGA: Bahasa Portugis Diajarkan di Sekolah Indonesia, Prabowo Ingin Pererat Hubungan dengan Brasil

Nada yang sama disuarakan budayawan Palembang, Vebri Al Lintani.

Ia mengungkap bahwa Malaysia bahkan memasukkan beberapa syair SMB II dalam kurikulum sekolah menengah mereka.

Sementara di Palembang, perhatian terhadap karya-karya itu sangat minim.

“Nama SMB II kita pakai di mana-mana. Tapi pojok sastranya di museum kita saja nyaris tidak terlihat,” kata Vebri, mencontohkan Syair Burung Nuri yang sarat kesedihan dan kerap dianggap menggambarkan pengalaman personal sang sultan dalam pengasingan.

Karya-karya lain seperti Syair Martalaya hingga Syair Perang Palembang sering menjadi bahan kajian akademis di luar negeri, namun jarang disentuh di forum lokal.

Karena itu, kehadiran program Museum Keliling mendapat apresiasi tinggi dari para tokoh budaya.

BACA JUGA: Kemenangan Sejarah! Makam Pangeran Kramojayo Resmi Kembali Jadi Cagar Budaya — “Tangan Tuhan” di Balik Putusan PTTUN Palembang!

Program ini dianggap sebagai jembatan yang membuka akses masyarakat terhadap benda dan narasi sejarah yang selama ini hanya tersimpan di ruang-ruang formal.

Menurut Panji dan Vebri, diskusi sastra semacam ini harus terus diperbanyak, dibawa ke komunitas, sekolah, kampus, dan ruang-ruang kreatif.

Harapannya, generasi muda Palembang kembali mengenal warisan intelektual leluhur mereka—warisan yang tidak hanya indah dibaca, tetapi juga merekam jejak perlawanan, spiritualitas, dan identitas kota.

Geliat Museum Keliling menjadi sinyal awal bahwa Palembang mulai menoleh kembali pada khazanah sastranya sendiri.

Upaya kecil, tetapi berdampak panjang: menghidupkan kembali ingatan kolektif terhadap Sultan Mahmud Badaruddin II, bukan hanya sebagai nama, tetapi sebagai pemikir besar yang meninggalkan jejak kata dan makna. (*/red)

CEK BERITA LINTANGPOS.com di Google Search