Ringkasan Berita:
° Ponsel lipat semakin canggih, namun rasio layar hampir kotak di Galaxy Z Fold 7 dinilai kurang ideal untuk menonton video.
° Kehadiran Samsung Galaxy Z Trifold dengan layar 10 inci dan rasio 4:3 disebut berpotensi mengubah pengalaman menonton di ponsel lipat.
JAKARTA, LINTANGPOS.com – Ini adalah masa yang menyenangkan bagi penggemar ponsel lipat.
Dari tahun ke tahun, perangkat foldable hadir semakin tipis, semakin kuat, dan tentu saja semakin bertenaga.
Segmen yang dulu dianggap eksperimental kini mulai matang dan dilirik lebih serius oleh konsumen.
Namun, di balik segala kemajuan tersebut, ternyata masih ada satu persoalan klasik yang belum sepenuhnya terjawab: pengalaman menonton video.
Bagi banyak pengguna, termasuk penulis teknologi yang sudah mencoba berbagai ponsel lipat terbaru, model lipat bergaya tablet jauh lebih menarik dibandingkan ponsel lipat model clamshell.
Alasannya sederhana—layar bagian dalam yang besar menawarkan kenyamanan ekstra untuk berselancar di internet, bermain gim, scrolling media sosial, hingga multitasking dengan banyak aplikasi sekaligus.
BACA JUGA: Harga Naik Diam-Diam! Samsung Galaxy A Series Bersiap Lebih Mahal, Ada Apa di Baliknya?
Sayangnya, ekspektasi “layar besar = pengalaman menonton lebih imersif” tidak selalu terpenuhi.
Rasio Layar Hampir Kotak, Video Jadi Kurang Maksimal
Masalah utama ponsel lipat bergaya tablet terletak pada rasio aspek layar bagian dalamnya.
Kebanyakan memiliki bentuk hampir persegi, yang ternyata kurang ideal untuk konten video modern yang umumnya menggunakan format widescreen 16:9 atau bahkan lebih lebar.
Samsung Galaxy Z Fold 7 menjadi contoh paling aktual. Ponsel ini hadir dengan layar dalam 8 inci yang secara visual memang memukau.
Namun, rasio aspeknya yang tidak lazim—91:82—membuat video widescreen tidak memanfaatkan seluruh bidang layar secara optimal.
BACA JUGA: Drama Rahasia di CES 2026: Bos Samsung ‘Ngotot’ Temui CEO Micron Demi Selamatkan Galaxy S26!
Ketika ponsel diputar ke posisi landscape dan digunakan untuk memutar video 16:9, area video yang terlihat hanya sekitar 6,88 inci secara diagonal, atau sekitar 64 persen dari total luas layar.
Sisanya “terbuang” dalam bentuk bar hitam tebal di bagian atas dan bawah.
Secara angka, peningkatan ukuran video dibanding layar ponsel biasa memang ada. Namun peningkatan itu terasa tanggung.
Bahkan, pengalaman menonton di Galaxy Z Fold 7 disebut tidak jauh berbeda dengan ponsel konvensional berlayar besar seperti Samsung Galaxy S25 Plus—atau bahkan seri menengah seperti Galaxy A36—yang harganya jauh lebih terjangkau.
Ironisnya, layar bagian dalam Galaxy Z Fold 7 justru dinilai kurang efisien untuk menonton dibanding layar cover-nya.
Memang video terlihat lebih besar saat dibuka, tetapi bar hitam yang ikut membesar membuat kesan “layar raksasa” jadi tidak maksimal.
BACA JUGA: Aksesori Galaxy S26 Terungkap! Samsung Diam-Diam Siapkan MagSafe Killer?
Semakin Baru, Semakin Kotak?
Menariknya, tren desain Galaxy Z Fold dari generasi ke generasi justru bergerak ke arah layar yang semakin “kotak”.
Data yang dibagikan seorang pengguna Reddit menunjukkan bahwa Galaxy Z Fold generasi pertama dengan layar 7,3 inci dan rasio 1,4:1 mampu menampilkan video 16:9 hingga 6,77 inci secara diagonal.
Angka itu nyaris sama dengan Galaxy Z Fold 7, meskipun perangkat terbaru ini memiliki layar lebih besar, yakni 8 inci.
Artinya, pertambahan ukuran layar tidak otomatis berbanding lurus dengan peningkatan pengalaman menonton video.
Meski demikian, kritik ini bukan berarti Galaxy Z Fold 7 adalah ponsel yang buruk.
BACA JUGA: Samsung Kuasai Dunia! Pangsa Lipatannya Meledak di Q3 2025, Saingi Ancaman iPhone Lipat
Sebaliknya, seri Fold tetap menjadi juara untuk urusan multitasking, produktivitas, dan fleksibilitas kerja.
Bagi banyak penggemar foldable, kompromi pada aspek video masih bisa diterima.
Namun, bagaimana jika kompromi itu tidak lagi diperlukan?
Galaxy Z Trifold: Harapan Baru Pecinta Film Mobile
Harapan tersebut kini disematkan pada perangkat yang masih dinanti kehadirannya: Samsung Galaxy Z Trifold.
Berbeda dari seri Fold sebelumnya, ponsel ini dikabarkan mengusung desain multi-lipat dengan layar dalam berukuran sekitar 10 inci dan rasio aspek 4:3.
Secara teori, rasio 4:3 memang masih menyisakan bar hitam saat memutar video 16:9.
Namun keunggulan utama Galaxy Z Trifold terletak pada ukuran layarnya yang jauh lebih besar.
Dengan bentang diagonal sekitar 10 inci, video 16:9 bisa tampil hingga 9,18 inci—lonjakan signifikan dibanding Galaxy Z Fold 7.
Bagi penikmat film, serial TV, dan video streaming, angka tersebut sangat menggoda.
Pengalaman menonton di ponsel bisa mendekati tablet, tetapi tetap mempertahankan keunggulan utama foldable: portabilitas.
Bayangkan sebuah perangkat yang bisa dilipat rapi ke dalam saku atau tas kecil saat antre di bandara, lalu dibuka menjadi layar lebar saat duduk di pesawat atau kereta.
Konsep inilah yang sejak awal membuat banyak orang jatuh cinta pada ponsel lipat.
Lebih dari Sekadar Menonton
Tentu saja, Galaxy Z Trifold tidak akan hanya menjual ukuran layar.
Samsung diperkirakan akan menghadirkan alur kerja baru untuk produktivitas, skenario multitasking yang belum pernah ada sebelumnya, serta pengalaman penggunaan yang benar-benar berbeda dari ponsel lipat generasi sekarang.
Sebagai perangkat dengan form factor baru, Trifold juga akan menantang kebiasaan pengguna dalam berinteraksi dengan smartphone.
Dari cara membuka aplikasi, membagi layar, hingga mengoptimalkan ruang kerja digital, semuanya berpotensi berubah.
Jika rumor dan ekspektasi ini terbukti, Galaxy Z Trifold bukan hanya sekadar ponsel lipat besar, melainkan evolusi nyata dari konsep foldable itu sendiri.
Menunggu Jawaban Samsung
Pada akhirnya, perkembangan ponsel lipat menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu soal spesifikasi tertinggi, tetapi juga soal memahami cara orang menggunakan perangkat mereka.
Galaxy Z Fold 7 mungkin sempurna untuk bekerja, tetapi Galaxy Z Trifold berpeluang menjadi perangkat impian bagi mereka yang ingin bekerja sekaligus menikmati hiburan tanpa kompromi.
Kini, publik hanya bisa menunggu apakah Samsung benar-benar mampu menjawab kritik lama soal pengalaman menonton di ponsel lipat—atau justru membuka babak baru dalam sejarah smartphone. (*/red)






