Setiap serangan yang menghantamnya seperti menghantam gunung yang tak bisa dipindahkan.
Dalam kuda-kuda sempurna, Sang Jawara adalah mahaguru bela diri tanpa tanding.
Pakaian cokelat tanah dan ikat pinggang hijau kemasan melambangkan keseimbangan antara kekuatan dan pengendalian diri.
BACA JUGA: Dari Latihan Bareng Ronaldo hingga Kerja Bangunan, Kisah Pilu Cendrim Kameraj
Ia menjaga pintu yang paling sering diserang oleh kekuatan api dan gejolak emosi.
Gerakannya secepat kilat, serangannya mematikan.
Baginya, setiap jengkal tanah Empat Lawang harus dibela hingga tetes keringat dan darah terakhir.
Suatu malam, gerhana merah muncul dan membangkitkan monster dari kegelapan yang bertekad menghancurkan Empat Lawang.
Untuk pertama kalinya dalam seratus tahun, keempat pendekar berkumpul di titik pusat gerbang.
BACA JUGA: Liburan Berkedok Kunker! Dana PMI Rp250 Juta Dipakai ke Bali, ART dan Keluarga Ikut Diboyong
Hingga hari ini, masyarakat percaya:
jika angin berhembus tenang di Empat Lawang, itu pertanda keempat pendekar tersebut masih setia berjaga di posisinya masing-masing. (*/NS)
Penulis: Noperman Subhi
Page: 1 2
Salah seorang warga, Leki, mengatakan gagal panen terjadi di sejumlah kawasan persawahan atau ladangan di…
Penelitian Nestia Destiani membahas pemanfaatan WhatsApp sebagai media penyebaran pesan dakwah oleh remaja di Desa…
Ketua DMI Empat Lawang Dodi Irawan menegaskan masjid harus menjadi pusat peradaban, pendidikan dan pemberdayaan…
Ketua DMI Sumsel menegaskan DMI Empat Lawang harus menyatu dengan pemerintah dan aktif menguatkan agenda…
Kepengurusan baru DMI Empat Lawang resmi dilantik. Bupati Joncik berharap organisasi kembali aktif dan mampu…
Artikel ilmiah Deah Monica mengulas implementasi kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah terhadap permukiman di sekitar…