Setiap serangan yang menghantamnya seperti menghantam gunung yang tak bisa dipindahkan.
Dalam kuda-kuda sempurna, Sang Jawara adalah mahaguru bela diri tanpa tanding.
Pakaian cokelat tanah dan ikat pinggang hijau kemasan melambangkan keseimbangan antara kekuatan dan pengendalian diri.
BACA JUGA: Dari Latihan Bareng Ronaldo hingga Kerja Bangunan, Kisah Pilu Cendrim Kameraj
Ia menjaga pintu yang paling sering diserang oleh kekuatan api dan gejolak emosi.
Gerakannya secepat kilat, serangannya mematikan.
Baginya, setiap jengkal tanah Empat Lawang harus dibela hingga tetes keringat dan darah terakhir.
Suatu malam, gerhana merah muncul dan membangkitkan monster dari kegelapan yang bertekad menghancurkan Empat Lawang.
Untuk pertama kalinya dalam seratus tahun, keempat pendekar berkumpul di titik pusat gerbang.
BACA JUGA: Liburan Berkedok Kunker! Dana PMI Rp250 Juta Dipakai ke Bali, ART dan Keluarga Ikut Diboyong
Hingga hari ini, masyarakat percaya:
jika angin berhembus tenang di Empat Lawang, itu pertanda keempat pendekar tersebut masih setia berjaga di posisinya masing-masing. (*/NS)
Penulis: Noperman Subhi
Page: 1 2
Dua rumah warga di Padang Tepung, Ulu Musi, Empat Lawang, ludes terbakar. Diduga korsleting listrik,…
Empat Lawang memperluas program Ananda Bersinar melalui sekolah hingga desa. Kemang Manis dijadwalkan menjadi lokasi…
Deskripsi: Sebanyak 154 karateka mengikuti Porkab Empat Lawang 2026. Ajang ini menjadi seleksi atlet menuju…
Polres Empat Lawang mengamankan RZ di Desa Air Mayan, Paiker, dengan barang bukti diduga sabu…
Polsek Tebing Tinggi mengamankan RH (46), terduga pencuri 30 tandan sawit di Desa Batu Pance,…
Polsek Tebing Tinggi menangkap SR alias Rijok, terduga pelaku pencurian di Gedung Koperasi Merah Putih…