“Selain tempat ibadah, Masjid Az Zahro akan kita kembangkan sebagai pusat perekonomian masyarakat,” ujarnya.
Nama “Az Zahro” sendiri memiliki kisah yang menyentuh.
BACA JUGA: Masjid Darussalam Disiapkan Jadi Ikon Baru Musi Rawas
Ide tersebut pertama kali muncul dari sang istri, Tri Karsila.
Secara kebetulan—atau mungkin petunjuk Ilahi—nama itu memiliki keterkaitan erat dengan ayah Saiful, almarhum Zahri.
Dari sanalah lahir makna mendalam: masjid ini diwakafkan atas nama kedua orang tuanya, Zahri dan Hj Rohana, sebagai amal jariyah yang diharapkan terus mengalir pahalanya.
Masjid ini terbuka untuk semua kalangan.
Mulai dari jamaah harian, ibu-ibu pengajian, remaja masjid, hingga organisasi kemasyarakatan Islam.
Bahkan para pengguna jalan raya dipersilakan menjadikan Masjid Az Zahro sebagai tempat singgah yang aman dan nyaman.
BACA JUGA: Pria Dibacok Anak Marbot di Masjid Palembang, Berawal dari Tuduhan Curi Kotak Amal!
Apresiasi pun datang dari Sekretaris Daerah Kabupaten Empat Lawang, H Fauzan Khoiri Denin.
Ia menilai kehadiran Masjid Az Zahro sebagai jawaban atas kebutuhan masjid strategis di jalur Lintas Sumatera.
Dengan area parkir luas, halaman lapang, serta fasilitas wudhu yang bersih, masjid ini dinilai ideal bagi musafir dan masyarakat.
Menurut Fauzan, sepanjang jalur dari Talang Banyu hingga Talang Gunung Tebing Tinggi, belum banyak masjid yang benar-benar representatif di pinggir jalan utama.
Kehadiran Masjid Az Zahro, katanya, melengkapi kebutuhan tersebut.
Dalam kesempatan itu, Fauzan juga mengungkapkan rencana pemerintah daerah untuk membangun Masjid Madani, yang saat ini masih dalam tahap persiapan lokasi dan perencanaan.
BACA JUGA: Masjid Cheng Hoo, Simbol Harmoni Tionghoa dan Islam di Palembang
Ia pun menitipkan amanat kepada pengurus Masjid Az Zahro agar menjaga kepercayaan, memakmurkan masjid dengan aktivitas ibadah, serta mengembangkan potensi ekonomi dan menjaga keamanan lingkungan sekitar.
Masjid Az Zahro kini bukan hanya bangunan indah di pinggir jalan.
Ia adalah simbol bakti seorang anak, ketulusan orang tua, dan harapan akan masjid yang hidup—menghidupkan iman, menggerakkan ekonomi, dan menyatukan umat di Empat Lawang. (*/red)







