Hal ini membuat alur kerja distribusi makanan lebih teratur dan higienis.
Adrian menyoroti perlunya pengawasan distribusi makanan saat tiba di sekolah.
Ia mencontohkan di beberapa SD, makanan tiba terlalu pagi dan baru dikonsumsi berjam-jam kemudian. Hal ini meningkatkan risiko makanan terkontaminasi.
Selain itu, Ombudsman juga mencatat keluhan dari siswa SMA yang dipaksa makan pada pukul 09.00–10.00 WIB, padahal sebagian sudah sarapan di rumah.
BACA JUGA: Pemkab Muratara Tegaskan Dukungan Penuh Program Makan Bergizi Gratis
Situasi ini dianggap kurang sesuai dengan kebutuhan siswa.
“Kami sarankan sekolah memperbarui data kebutuhan siswa, baik untuk pagi maupun siang. Dapur MBG juga fleksibel, tidak masalah jika pengantaran dilakukan sesuai kebutuhan sekolah,” jelas Adrian.
Ombudsman Sumsel menargetkan investigasi rampung dalam 2 hingga 3 minggu ke depan.
Hasil temuan akan segera dirilis sebagai rekomendasi untuk BGN dan SPPG agar kualitas penyelenggaraan program MBG di Sumsel semakin baik.
“Tujuan kami mempercepat proses agar saran bisa segera dijadikan masukan, sehingga ke depan bisa meminimalisir temuan atau kejadian yang tidak diinginkan,” tegas Adrian. (*/red)
Page: 1 2
Open House dan pembukaan MPLS Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Empat Lawang Tahun Ajaran 2026/2027…
Bupati Empat Lawang Dr. H. Joncik Muhammad meninjau langsung kesiapan akhir Sekolah Rakyat menjelang pelaksanaan…
Bupati Empat Lawang Joncik Muhammad melakukan kunjungan dan pengecekan akhir kesiapan Sekolah Rakyat menjelang pelaksanaan…
Bupati Empat Lawang Joncik Muhammad menghadiri Rapimwil Pemuda Muhammadiyah Sumsel sekaligus pelantikan PDPM Lubuk Linggau.
Lima desa di Empat Lawang diusulkan mendapat pembangunan BTS untuk memperluas akses internet dan mengurangi…
Dua qori asal Rejang Lebong, Herdiansyah dan Nofita Sari, mewakili Bengkulu pada MTQ Nasional 2026…