“Teknologi yang digunakan meliputi Building Information Modelling (BIM) untuk koordinasi desain dan pelaksanaan, LiDAR untuk survei topografi berakurasi tinggi, serta Electronic Density Gauge (EDG) untuk verifikasi kepadatan tanah tanpa merusak permukaan,” ungkap Aditya.
BACA JUGA: Progres Tol Palembang-Betung 70,75 Persen, Siap Fungsional Lebaran 2026
Selain itu, UAV Photogrammetry dan Terrestrial Laser Scanner (TLS) digunakan untuk memverifikasi data volume pekerjaan, sementara Load Scanner memastikan keakuratan volume material.
Inovasi terbaru HKI, Immersite360, memungkinkan pemantauan lapangan secara virtual dengan integrasi dunia nyata, sehingga memperkuat transparansi dan efisiensi pengawasan proyek.
Tak hanya fokus pada kecepatan konstruksi, HKI juga berkomitmen terhadap pembangunan berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Seluruh kegiatan proyek menerapkan pemantauan kualitas udara, air, serta pengelolaan limbah sejak tahap pra-konstruksi.
Alat berat yang digunakan merupakan unit berumur muda untuk menekan emisi, sementara limbah B3 dikelola secara komprehensif.
Melalui program QHSSE Pass, kualitas, kesehatan, keselamatan, dan lingkungan kerja dijaga ketat.
BACA JUGA: Guru dan Komite SMA Negeri 1 Merapi Barat Tolak Kepemimpinan Kepala Sekolah
Re-plantasi di area terbuka juga dilakukan sebagai upaya menjaga ekosistem sekitar proyek.
“HKI ingin memastikan bahwa pembangunan infrastruktur tidak hanya cepat dan berkualitas, tetapi juga selaras dengan prinsip keberlanjutan,” tegas Aditya.
Ke depan, pihak HKI berharap proyek ini terus memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
“Kami ingin Jalan Tol Betung–Jambi Seksi 1A tak sekadar menjadi jalur penghubung antarwilayah, tetapi juga penggerak ekonomi lokal,” tutup Aditya Novendra Jaya.
Dengan progres yang hampir menembus separuh penyelesaian, masyarakat kini semakin menantikan hadirnya tol baru ini sebagai bagian penting dari Jalan Tol Trans Sumatera yang menghubungkan banyak daerah di Pulau Andalas. (*/red)






