Ringkasan Berita:
° Posko Terpadu Nataru di Bandara SMB II Palembang resmi ditutup dengan capaian menggembirakan.
° Selama 15 Desember 2025–4 Januari 2026, jumlah penumpang tumbuh 4,4 persen menjadi 192.312 orang, sementara pergerakan pesawat naik 9,8 persen.
PALEMBANG, LINTANGPOS.com – Gemuruh aktivitas penerbangan masih terasa di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang meski Posko Terpadu Angkutan Udara Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 resmi ditutup.
Angka-angka yang tercatat sepanjang musim libur ini menjadi penanda kuat meningkatnya mobilitas masyarakat Sumatera Selatan.
General Manager Bandara SMB II Palembang, Ahmad Syaugi Shahab, menyebutkan selama periode 15 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026, bandara melayani 192.312 penumpang, tumbuh 4,4 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Tak hanya penumpang, pergerakan pesawat juga mencatat lonjakan signifikan sebesar 9,8 persen dengan total 1.305 penerbangan.
Peningkatan tersebut menjadi bukti bahwa Bandara SMB II tetap menjadi simpul utama konektivitas wilayah barat Indonesia, khususnya pada momentum libur panjang akhir tahun.
“Kondisi bandara sejak Nataru dimulai berjalan dengan lancar dan koordinasi antar stakeholder berjalan baik dari sisi keamanan maupun keselamatan,” ujar Syaugi, Senin (5/1/2026).
BACA JUGA: Jembatan Darurat Disiapkan, Empat Lawang Siaga! Sumsel Bentengi Jalur Rawan Longsor Jelang Nataru
Puncak arus mudik terjadi pada 24 Desember 2025, ketika volume penumpang menembus 11.000 orang dalam satu hari.
Lonjakan trafik ini turut didorong oleh realisasi 19 penerbangan tambahan (extra flight), dengan rute menuju Jakarta menjadi yang paling dominan.
Data operasional juga mencatat tingkat keterisian pesawat (load factor) mencapai 81,6 persen, sementara utilisasi slot penerbangan menyentuh angka 93,3 persen, menunjukkan pemanfaatan kapasitas bandara yang nyaris maksimal.
Meski demikian, catatan penting masih muncul pada sisi On Time Performance (OTP) yang berada di angka 70 persen.
Syaugi menegaskan bahwa meski ketepatan waktu belum optimal, seluruh operasional tetap terkendali dan tidak ada penumpang yang terlantar.
“OTP selama periode Nataru tercatat mencapai 70 persen, namun kami memastikan tidak ada penumpang yang sampai terlantar,” katanya.
Hasil evaluasi Posko Terpadu ini akan menjadi pijakan untuk peningkatan layanan ke depan, khususnya dalam pengelolaan kepadatan di jam sibuk dan perbaikan ketepatan waktu penerbangan.
“Koordinasi berjalan baik, namun tetap menjadi bahan evaluasi bersama, khususnya dalam peningkatan ketepatan waktu penerbangan,” pungkasnya. (*/red)






