Situasi ini juga menimbulkan kekhawatiran baru di Amerika Serikat, di mana Spirit Airlines, salah satu maskapai murah terbesar di negeri itu, dilaporkan tengah menghadapi krisis serupa.
Meski telah menerima suntikan dana sebesar 475 juta dolar AS untuk menjaga kelangsungan operasinya, Spirit tetap membatalkan pesanan sejumlah pesawat Airbus dalam rangka restrukturisasi keuangan.
Menambah daftar kabar buruk, Verijet, maskapai jet pribadi yang dikenal ramah lingkungan, mengumumkan akan menutup seluruh operasinya pada akhir Oktober 2025.
Maskapai yang mengklaim sepenuhnya netral karbon ini mengalami kerugian besar setelah kematian CEO-nya, Richard Kane, pada September lalu.
BACA JUGA: Pantai Napae, Permata Tersembunyi Desa Mebba yang Siap Jadi Andalan Wisata Bahari NTT
Dengan beban utang mencapai 38,7 juta dolar AS, Verijet resmi mengajukan kebangkrutan Bab 7 di Amerika.
Krisis maskapai ini mencerminkan betapa rapuhnya industri penerbangan murah pasca-pandemi.
Tekanan biaya bahan bakar, fluktuasi ekonomi global, dan ketergantungan pada harga tiket rendah membuat banyak maskapai sulit bertahan.
Kini, baik pelancong bisnis maupun wisatawan diminta lebih berhati-hati dalam memilih maskapai, memastikan perlindungan tiket dan asuransi perjalanan yang memadai agar tidak menjadi korban berikutnya dari badai kebangkrutan industri penerbangan. (*/red)





