Ia menilai aturan tersebut terlalu mengekang ruang gerak sopir dan berpotensi menghambat suplai barang esensial.
Di akhir aksi, seruan mereka terdengar lantang: pemerintah harus segera hadir.
Para sopir menegaskan bahwa perjuangan ini bukan semata soal kepentingan pribadi, melainkan menjaga keberlangsungan rantai logistik yang menopang denyut ekonomi Sumatera Selatan.
Dengan keringat yang menetes dan suara yang mengeras, mereka berharap pintu dialog terbuka dan solusi konkret segera lahir. (*/red)





