Setelah tumbuh dewasa, Burung Binang diperintahkan untuk meninggalkan gunung dan berkelana mengikuti arah barat melalui anak Sungai Musi.
Ia kemudian dikenal dengan nama lain, Keria Bujang Gunung, dan merantau hingga menetap di Dusun Ulak Mengkudu.
Pertikaian dengan Si Mata Empat
Sementara itu, Si Badrin menjalani kehidupannya bersama Putri Bimbang Ati.
Ia membuka ladang di dekat lahan milik Riye Tabing atau Si Mata Empat.
Konflik di antara keduanya bermula dari sebuah pohon besar yang tumbang.
Sebagian batang pohon masuk ke lahan Si Badrin dan sebagian lainnya berada di lahan Riye Tabing.
Persoalan semakin memanas setelah muncul jamur emas pada bagian pohon tersebut.
Keduanya kemudian memperebutkan benda yang dianggap berharga itu.
Karena sama-sama memiliki kesaktian, pertikaian tidak mudah diselesaikan.
Mereka akhirnya sepakat mengadu kesaktian di sekitar Danau Ranau.
Keduanya menggunakan sebuah pohon enau sebagai arena pertarungan.
Aturannya sederhana, siapa yang mampu menjatuhkan tandan enau hingga mengenai lawannya dinyatakan kalah.
Si Badrin mendapat kesempatan pertama.
Ia naik ke pohon sementara Riye Tabing menunggu di bawah.
Tandan enau yang dijatuhkan Si Badrin hampir mengenai Riye Tabing.
Namun, Riye Tabing berhasil menghindar.
Dalam cerita, kemampuan tersebut dikaitkan dengan julukannya sebagai Si Mata Empat karena memiliki dua mata di bagian depan dan dua mata di bagian belakang.
Ketika giliran Riye Tabing tiba, ia naik ke pohon dan menjatuhkan tandan enau.
Kali ini tandan tersebut mengenai Si Badrin.
Si Badrin jatuh dan mengucapkan perkataan yang dalam kisah tersebut menjadi kenyataan.
Ia akhirnya meninggal dunia.
Peristiwa inilah yang semakin menguatkan julukannya sebagai Si Pahit Lidah, sebab perkataan terakhir yang diucapkannya dipercaya menjadi kenyataan.
Kesaktian Lidah yang Berakhir Tragis
Setelah Si Badrin meninggal, Riye Tabing meninggalkan tempat tersebut.
Namun, dalam perjalanan, ia merasa penasaran terhadap kesaktian lidah Si Badrin.
Ia kemudian kembali mendatangi jasad Si Badrin dan mencicipi bekas liur pada lidahnya.
Dalam kisah yang diwariskan masyarakat, Riye Tabing kemudian meninggal setelah mencicipi liur tersebut.
Cerita pun berakhir dengan kematian kedua tokoh yang sebelumnya terlibat dalam pertikaian.
Jasad Si Badrin kemudian dibawa keluarganya dan dimakamkan di atas puncak bukit di Desa Pelang Kenidai.
Sementara keberadaan jasad Riye Tabing tidak diketahui secara pasti dalam cerita yang berkembang.
Warisan Budaya yang Tetap Hidup
Terlepas dari beragam versi dan unsur kesaktian yang terdapat di dalamnya, kisah Si Pahit Lidah memiliki posisi penting dalam kekayaan budaya Sumatera Selatan.
Cerita tersebut bukan sekadar kisah tentang manusia sakti.
Di dalamnya terdapat gambaran mengenai hubungan manusia dengan alam, keluarga, konflik, perkawinan, kepercayaan masyarakat serta nilai-nilai yang berkembang dalam kehidupan sosial.
Kaitannya dengan Tari Kebagh juga memperlihatkan bagaimana sebuah cerita rakyat dapat berhubungan dengan kesenian tradisional yang masih dikenal masyarakat hingga sekarang.
Kisah Serunting Sakti juga disebut telah masuk dalam Sejarah Nasional I sebagai legenda yang berkembang di kawasan dataran tinggi atau Bukit Barisan.
Hingga kini, kisah Si Pahit Lidah masih diwariskan secara lisan kepada generasi muda.
Pewarisan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga ingatan kolektif masyarakat Sumatera Selatan.
Di tengah perkembangan zaman, keberadaan cerita rakyat seperti Si Pahit Lidah menjadi pengingat bahwa kekayaan budaya tidak selalu tersimpan dalam benda.
Sebagian justru hidup melalui tutur kata, ingatan, dan cerita yang terus disampaikan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, menjaga kisah Serunting Sakti berarti turut menjaga salah satu bagian dari identitas budaya Sumatera Selatan yang telah hidup selama berabad-abad. (*/red)






