Si Pahit Lidah, Legenda Sakti yang Terus Hidup di Sumatera Selatan

oleh -13 Dilihat
oleh
Patung Sipahit Lidah. (*/Istimewa)

LINTANGPOS.com – Kisah Si Pahit Lidah atau Serunting Sakti menjadi salah satu legenda yang begitu melekat dalam kehidupan masyarakat Sumatera Selatan.

Ceritanya diwariskan dari generasi ke generasi dan masih kerap dituturkan, terutama ketika berbincang dengan para tokoh adat di berbagai daerah.

Tokoh yang dikenal dengan sejumlah nama, termasuk Si Badrin dan Si Pengucap, tersebut dipercaya memiliki kesaktian di luar kemampuan manusia biasa.

Julukan Si Pahit Lidah muncul karena setiap perkataan yang diucapkannya dipercaya dapat menjadi kenyataan.

Kisah Serunting Sakti memiliki banyak versi yang berkembang di tengah masyarakat.

Perbedaan versi tersebut merupakan hal yang lazim dalam tradisi lisan, sebab cerita diwariskan melalui tuturan dan mengalami penyesuaian sesuai lingkungan masyarakat yang menceritakannya.

Dalam konteks pemajuan kebudayaan, tradisi lisan merupakan salah satu objek kebudayaan yang perlu dilestarikan.

Tradisi tersebut mencakup berbagai bentuk tuturan turun-temurun, mulai dari sejarah lisan, dongeng, rapalan, pantun hingga cerita rakyat.

Jejak Si Pahit Lidah di Pagaralam

Kota Pagaralam menjadi salah satu wilayah di Sumatera Selatan yang memiliki tradisi kuat dalam pewarisan kisah Si Pahit Lidah.

Pada Oktober 2023, BPK Wilayah VI turut menelusuri kisah Si Pahit Lidah di wilayah tersebut.

Salah satu jejak yang menarik perhatian adalah keberadaan makam di atas bukit di Desa Pelang Kenidai.

Makam tersebut diyakini masyarakat sebagai tempat peristirahatan terakhir Serunting Sakti.

Keberadaan makam menjadi salah satu alasan kisah tokoh tersebut tetap hidup dalam ingatan masyarakat setempat.

Menurut Chozali, warga Pagaralam yang dipercaya sebagai juru kunci makam, versi cerita yang berkembang di Pagaralam menyebut Serunting Sakti sebagai keturunan Dewa Semidang atau Batare, yang juga dikenal sebagai Puyang Panjang atau Bujang Semidang.

Dewa Semidang disebut berasal dari daerah Pinang Belingkar, Pagaruyung, Sumatera Barat.

Dari garis keturunan tersebut kemudian berkembang kisah tentang Serunting Sakti yang memiliki perjalanan hidup penuh konflik dan kesaktian.

Kisah Tujuh Bidadari

Dalam cerita yang berkembang di Pagaralam, tokoh Serunting Sakti juga dikenal sebagai Si Badrin.

Ia dikisahkan tinggal di daerah Tangga Manik, di tepian Sungai Selangis.

Si Badrin memiliki kebun tebu di kawasan Tebat Muare Telang.

Di tengah kebun tersebut terdapat mata air yang tidak pernah kering, bahkan ketika musim kemarau.

Mata air itu kemudian dimanfaatkan Si Badrin untuk membuat pancuran.

Namun, ia mulai curiga karena pancuran tersebut ternyata digunakan seseorang ketika malam bulan purnama.

Suatu malam, rasa penasaran membuat Si Badrin mengintip dari kejauhan.

Ia terkejut ketika mengetahui bahwa yang mandi di pancuran tersebut adalah tujuh perempuan yang dipercaya sebagai bidadari dari kayangan.

Si Badrin kemudian menggunakan akalnya untuk mengambil salah satu selendang milik bidadari.

Selendang itu disembunyikannya di bawah tiang bumbungan rumah.

Akibat kehilangan selendang, bidadari bungsu tidak dapat kembali ke kayangan bersama saudara-saudaranya.

Dalam perjalanan cerita, bidadari tersebut kemudian menikah dengan Si Badrin.

Selendang yang Melahirkan Tari Kebagh

Kehidupan rumah tangga Si Badrin dan bidadari bungsu tidak berlangsung tanpa persoalan.

Ketika usia kehamilan bidadari bungsu memasuki masa tua, Si Badrin justru tertarik kepada perempuan lain bernama Putri Bimbang Ati.

Putri Bimbang Ati disebut sebagai adik Riye Tabing, tokoh yang kemudian dikenal dengan julukan Si Mata Empat.

Dalam kisah tersebut, Si Badrin akhirnya menikahi Putri Bimbang Ati.

Pada pesta pernikahan, ia meminta bidadari bungsu menari di hadapan para tamu.

Awalnya permintaan itu ditolak.

Namun, setelah dipaksa, bidadari bungsu bersedia menari dengan satu syarat: ia harus mengenakan selendang miliknya yang selama ini disembunyikan Si Badrin.

Selendang itu akhirnya diberikan. Ketika menari, bidadari bungsu kemudian terbang dan meninggalkan dunia menuju kayangan.

Peristiwa tersebut dalam tradisi masyarakat Pagaralam dikaitkan dengan asal-usul Tari Kebagh, salah satu kesenian tradisional yang dikenal di daerah tersebut.

Anak yang Ditinggalkan di Gunung Dempo

Setelah kembali ke kayangan, bidadari bungsu tidak sepenuhnya diterima oleh saudara-saudaranya karena anak yang dikandungnya merupakan keturunan manusia.

Ia kemudian pergi menuju Gunung Dempo.

Di kawasan tersebut, ia melahirkan seorang anak laki-laki bernama Burung Binang.

Burung Binang kemudian dititipkan kepada penguasa Gunung Dempo yang dalam cerita disebut Tuan Raje Nyawe.

CEK BERITA LINTANGPOS.com di Google Search