Terungkap! Cara Tak Terduga Manusia Menjaga Cerita Masa Lalu Sebelum Ada Tulisan

oleh -450 Dilihat
Sejarah lisan menjadi kunci merawat memori bangsa lewat kesaksian langsung para pelaku peristiwa, mengisi ruang kosong yang tak tercatat dalam dokumen resmi.

Ringkasan Berita:

° Sejarah lisan kembali dilirik sebagai cara penting memahami masa lalu melalui kesaksian langsung para pelaku.

° Dari Amerika hingga Indonesia, metode ini membantu mengisi celah yang tak tercatat dalam dokumen resmi dan menjaga memori kolektif sebelum para saksi sejarah tiada.


PALEMBANG, LINTANGPOS.com – Sebenarnya, Apa Sih Sejarah Lisan Itu? Coba bayangkan saat Anda duduk bersama orang tua atau kakek nenek, mendengarkan mereka bercerita tentang pengalaman hidup di masa muda.

Atau ketika Anda menonton film dokumenter yang mewawancarai pejuang kemerdekaan.

Nah, tanpa sadar, Anda sudah bersentuhan dengan yang namanya sejarah lisan.

Sejarah lisan atau kalau dalam bahasa Inggris disebut “oral history” pada dasarnya adalah cara kita mengumpulkan cerita dan informasi tentang masa lalu langsung dari orang yang mengalaminya.

Beda dengan sejarah biasa yang mengandalkan dokumen dan arsip, sejarah lisan lebih fokus pada wawancara dan penuturan langsung.

Metode ini pertama kali dikembangkan di Amerika untuk melengkapi cara-cara konvensional dalam riset sejarah.

BACA JUGA: Bukit Siguntang, Wisata Sejarah dan Alam di Palembang yang Sarat Nilai Budaya

Jadi, sejarah lisan ini sifatnya sebagai pelengkap, bukan pengganti sumber tertulis.

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya manusia sudah menggunakan cara ini sejak dulu kala.

Sebelum ada tulisan, semua pengetahuan diwariskan lewat cerita dari mulut ke mulut.

Nenek moyang kita berbagi pengalaman dan kebijaksanaan kepada anak cucu mereka melalui dongeng, legenda, dan kisah-kisah.

Tapi setelah manusia bisa menulis, ada pergeseran pandangan. Tulisan mulai dianggap lebih kredibel daripada cerita lisan.

Kenapa? Karena tulisan itu permanen apa yang ditulis 100 tahun lalu akan tetap sama isinya ketika kita baca sekarang.

BACA JUGA: Rafa Benitez Resmi Tangani Panathinaikos, Jadi Pelatih dengan Gaji Tertinggi dalam Sejarah Liga Yunani

Sementara cerita lisan bisa berubah-ubah. Setiap orang yang menceritakan ulang bisa menambah atau mengurangi detail tertentu, entah sengaja atau tidak.

Akibatnya, banyak sejarawan yang lebih “jatuh cinta” pada dokumen tertulis dan menganggap kesaksian lisan kurang bisa diandalkan. Padahal, kedua sumber ini sebenarnya saling melengkapi.

Bagaimana Sejarah Lisan Berkembang?

Kalau kita runut ke belakang, penggunaan sejarah lisan secara sistematis dimulai sekitar tahun 1930-an di Amerika Serikat.

Waktu itu, ada sebuah program bernama Works Progress Administration yang mengirim orang-orang untuk mewawancarai berbagai kelompok masyarakat.

Mereka mencatat kesaksian dari orang-orang yang masih hidup dan pernah mengalami Perang Saudara Amerika, masa perbudakan, dan peristiwa-peristiwa penting lainnya.

BACA JUGA: SMKN 1 Empat Lawang Catat Sejarah, Terapkan AI untuk Asesmen Belajar Siswa

Lalu ada momen bersejarah di tahun 1946.

Seorang profesor psikologi bernama David Boder dari Chicago pergi ke Eropa membawa alat perekam.

Tujuannya? Merekam wawancara panjang dengan para korban Holocaust. Ini dianggap sebagai praktik sejarah lisan modern yang pertama kali didokumentasikan dengan baik.

Di Inggris, tahun 1970-an menjadi masa keemasan bagi sejarah lisan. Metode ini tidak hanya digunakan untuk riset akademis, tapi juga menjadi bagian penting dalam mempelajari kehidupan masyarakat biasa dan cerita rakyat mereka.

Cerita dari Asia Tenggara dan Indonesia

Wilayah Asia Tenggara itu unik. Di sini, tradisi bercerita dan budaya lisan masih sangat kental hingga sekarang.

BACA JUGA::Masjid Cheng Hoo, Simbol Harmoni Tionghoa dan Islam di Palembang

Dari Sabang sampai Merauke, dari Thailand sampai Filipina, setiap daerah punya kekayaan cerita rakyat dan tradisi lisan yang luar biasa.

CEK BERITA LINTANGPOS.com di Google Search