Selanjutnya, tokoh adat menyampaikan niat baik keluarga pelaku kepada keluarga korban.
Setelah itu dilakukan penyerahan hantaran, musyawarah untuk menentukan bentuk pertanggungjawaban, hingga akhirnya kedua belah pihak sepakat berdamai.
BACA JUGA: Oliver Kahn Peringatkan Bundesliga: Berhenti Bersembunyi di Balik Tradisi!
Menariknya, Punjungan Matah tetap relevan di era modern. Tradisi ini bahkan digunakan dalam penyelesaian konflik akibat kecelakaan lalu lintas maupun sengketa tanah.
Meski proses hukum tetap berjalan, masyarakat menganggap adat berperan penting untuk memulihkan hubungan sosial yang tidak dapat diselesaikan hanya melalui putusan hukum.
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa Punjungan Matah memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar tradisi. Prosesi ini mengajarkan pengendalian diri, tanggung jawab, musyawarah, serta penghormatan kepada sesama.
Nilai-nilai tersebut menjadi alasan mengapa tradisi ini tetap bertahan di tengah perkembangan zaman.
BACA JUGA: Konflik Agraria Sumsel Memanas, DPR RI Turun Tangan Cari Solusi Empat Lawang dan OKU Timur
Keberadaan Punjungan Matah menjadi bukti bahwa kearifan lokal masih memiliki peran penting dalam menjaga perdamaian masyarakat.
Di tengah modernisasi, tradisi ini menunjukkan bahwa penyelesaian konflik tidak selalu harus berakhir di ruang sidang, tetapi juga dapat ditempuh melalui jalan kekeluargaan yang mengedepankan kemanusiaan dan rekonsiliasi.







