Hasil pengujian inilah yang akan menentukan apakah Exynos 2600 benar-benar layak masuk ke lini foldable premium.
Keberhasilan Exynos 2600 membawa dampak strategis besar.
Jika sukses, Samsung berpotensi mengurangi ketergantungan pada Qualcomm, mengembalikan kepercayaan publik terhadap brand Exynos, serta memperkuat posisi sebagai pemain utama industri semikonduktor global.
Sebaliknya, kegagalan bisa memperpanjang stigma negatif terhadap chipset buatan Samsung.
Dengan Galaxy Z Flip 8 sebagai panggung utama, Samsung kini berada di persimpangan besar: apakah berani sepenuhnya mempercayai teknologi ciptaan sendiri, atau kembali bersandar pada dominasi Snapdragon.
Jawabannya akan menentukan arah masa depan smartphone lipat — dan reputasi Samsung di pasar teknologi dunia. (*/red)







