UGM Nilai Empat Lawang Layak Jadi Kawasan Transmigrasi Masa Depan

oleh -127 Dilihat
oleh
Guru Besar Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Suratman, MSc saat diwawancarai di Empat Lawang, Rabu (9/9/2026). Foto: dok/LINTANGPOS.com

EMPAT LAWANG, LINTANGPOS.com — Guru Besar Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Suratman, MSc, menilai Kabupaten Empat Lawang layak diusulkan sebagai kawasan transmigrasi model masa depan.

Penilaian itu disampaikan Prof. Suratman kepada wartawan, setelah mengikuti Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Naskah Akademik dan Rancangan Undang-Undang (RUU) Ketransmigrasian di Ruang Rapat Madani Pemkab Empat Lawang, Rabu (9/9/2026).

Menurut Prof. Suratman, Empat Lawang memiliki rekam jejak transmigrasi sejak sekitar 1982–1983. Dari penelusuran lapangan, terdapat kawasan yang telah menunjukkan keberhasilan, tetapi masih ada sejumlah persoalan yang perlu diselesaikan.

“Kami hadir ini untuk menyelesaikan semua hal,” ujar Prof. Suratman, seraya menyebut upaya tersebut mencakup pengembangan masa depan sekaligus penyelesaian berbagai persoalan yang masih tersisa.

BACA JUGA: Joncik Dorong Empat Lawang Jadi Kawasan Transmigrasi Terintegrasi 

Ia menjelaskan, pendekatan transmigrasi ke depan tidak lagi sama dengan pola lama. Kebijakan baru akan diarahkan pada revitalisasi dan transformasi transmigrasi, dengan mengedepankan potensi daerah, sumber daya manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi.

Prof. Suratman menyebut terdapat lima program transformasi yang menjadi perhatian, yakni Trans Tuntas, Trans Patriot, Trans Lokal, Trans Karya Nusantara (TKN), dan Trans Gotong Royong.

Salah satu konsep yang dinilai paling potensial dikembangkan di Empat Lawang adalah Trans Patriot, yakni menghadirkan akademisi dan tenaga ahli untuk menggali serta mengembangkan komoditas unggulan daerah.

“Kalau di sini kopi, ya. Jadi besok Trans Kopi sampai ekspor,” kata Prof. Suratman.

BACA JUGA: DPRD Empat Lawang Bahas Laporan APBD 2025, Soroti Transparansi dan Peningkatan PAD

Konsep tersebut menempatkan riset sebagai bagian penting dalam pengembangan komoditas. Pengetahuan mengenai kopi tidak hanya berhenti di kalangan akademisi atau tenaga ahli, tetapi harus ditransfer kepada petani.

Petani diharapkan memiliki kemampuan yang kuat dalam mengelola komoditasnya, mulai dari budidaya, pengolahan, peningkatan kualitas hingga pengembangan bisnis.

CEK BERITA LINTANGPOS.com di Google Search 

No More Posts Available.

No more pages to load.