“Kami ingatkan para guru, jangan hanya sekadar mengajar. Mereka juga harus mendidik. Perlu ada pendekatan emosional agar siswa merasa nyaman dan termotivasi untuk belajar,” kata Sayadi.
Dinas Pendidikan memastikan program pembinaan guru akan diperkuat.
Selain itu, pola pembelajaran juga akan dievaluasi agar kasus serupa tidak terjadi lagi.
Potret Ironi Pendidikan
BACA JUGA: Niat Jual HP, Pemuda Palembang Malah Jadi Korban Penipuan
Kasus ini menjadi cermin masih adanya celah besar dalam sistem pendidikan di daerah.
Di era serba digital, fakta bahwa ada pelajar SMP kelas 3 yang belum bisa membaca tentu mengejutkan banyak pihak.
Pendidikan dasar seharusnya sudah menuntaskan masalah literasi sejak SD.
Namun kenyataannya, masih ada anak-anak yang lolos dari pantauan sistem hingga ke tingkat SMP.
Kondisi ini dikhawatirkan akan berdampak pada kualitas generasi muda di masa depan.
“Kalau sejak awal tidak bisa membaca, bagaimana mereka bisa mengikuti pelajaran lain? Ini bukan hanya soal akademis, tapi juga soal masa depan mereka,” tambah Ardani.
BACA JUGA: Realisasi Pajak Daerah Sumsel Tembus Rp2,69 Triliun, Program Merdeka Pajak Jadi Pendorong
Langkah Nyata Ditunggu
Masyarakat kini menantikan tindak lanjut nyata dari sekolah, guru, hingga pemerintah daerah.
Program remedial, kelas tambahan, dan pendekatan personal kepada siswa yang tertinggal dianggap menjadi solusi mendesak.
Banyak pihak berharap temuan ini menjadi momentum evaluasi menyeluruh.
Pendidikan tidak boleh hanya sekadar menggugurkan kewajiban, melainkan benar-benar memastikan setiap anak memiliki bekal dasar yang layak untuk melangkah ke masa depan. (*/red)





