Ringkasan Berita:
° Sekolah kedinasan 2025 memberi sinyal penting bagi lulusan SMA/SMK.
° Sejumlah institusi ternyata tidak lagi mewajibkan nilai UTBK-SNBT, namun seleksi tetap ketat.
° Informasi ini menjadi acuan strategis bagi calon peserta yang membidik seleksi 2026.
JAKARTA, LINTANGPOS.com – Sekolah kedinasan 2025 kembali menjadi magnet bagi lulusan SMA/SMK/sederajat yang tengah menyusun peta jalan pendidikan sekaligus karier jangka panjang.
Statusnya yang menjanjikan ikatan dinas, pendidikan relatif gratis, hingga peluang menjadi aparatur sipil negara (ASN) membuat jalur ini selalu dipadati pendaftar setiap tahun.
Namun, ada satu perubahan penting yang patut dicermati.
Tidak semua sekolah kedinasan pada 2025 mewajibkan nilai UTBK-SNBT sebagai syarat seleksi.
Kebijakan ini menjadi sorotan karena pada tahun-tahun sebelumnya, UTBK sempat digunakan sebagai salah satu indikator penyaringan awal.
Perubahan tersebut membuka gambaran baru tentang pola seleksi, sekaligus menjadi referensi awal bagi calon peserta yang menargetkan seleksi 2026.
Bagi sebagian siswa, kabar ini terasa seperti angin segar.
UTBK-SNBT selama ini dianggap sebagai “gerbang besar” menuju pendidikan tinggi, termasuk sekolah kedinasan.
Ketika syarat tersebut tidak lagi diterapkan secara menyeluruh, jalur masuk pun menjadi lebih beragam.
UTBK Tak Lagi Jadi Syarat Mutlak
Pada beberapa periode sebelumnya, nilai UTBK-SNBT digunakan untuk memetakan kemampuan akademik calon taruna dan taruni.
Namun, seleksi sekolah kedinasan 2025 menunjukkan bahwa kebijakan tersebut tidak bersifat universal.
BACA JUGA: Wajib Tahu! Ini Daftar Sekolah Kedinasan yang Masih Membolehkan Mata Minus untuk Pendaftaran 2026
Sejumlah institusi resmi tercatat tidak lagi mewajibkan nilai UTBK-SNBT dalam proses seleksinya.
Salah satu contoh paling menonjol adalah Politeknik Keuangan Negara STAN.
Kampus kedinasan di bawah Kementerian Keuangan ini dikenal sebagai “primadona” dengan tingkat persaingan sangat tinggi.
Pada tahun-tahun sebelumnya, UTBK sempat menjadi bagian dari indikator seleksi awal.
Namun pada 2025, PKN STAN tidak lagi menjadikan UTBK-SNBT sebagai syarat.
Perubahan ini menunjukkan bahwa sekolah kedinasan mulai menitikberatkan pendekatan seleksi yang lebih spesifik terhadap kebutuhan instansi.
Artinya, kemampuan akademik tetap penting, tetapi diukur melalui instrumen seleksi internal yang dirancang sesuai karakter tugas lulusan.
Tanpa UTBK, Apakah Seleksi Lebih Mudah?
Jawabannya tegas: tidak. Ketiadaan syarat UTBK-SNBT bukan berarti seleksi menjadi longgar.
Justru sebaliknya, sekolah kedinasan tetap menerapkan tahapan seleksi berlapis dengan standar ketat.
Umumnya, proses seleksi diawali dengan pemeriksaan administrasi.
Peserta harus memenuhi persyaratan nilai rapor, usia, kesehatan dasar, hingga ketentuan khusus seperti tinggi badan atau kondisi penglihatan.
BACA JUGA: CPNS 2026 Dibuka Lebih Awal? Fresh Graduate Dapat Karpet Merah, BRIN dan Kemenkeu Buka Kode!
Setelah itu, peserta mengikuti Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) menggunakan sistem Computer Assisted Test (CAT) dari Badan Kepegawaian Negara (BKN).
Tahapan selanjutnya bervariasi, tergantung instansi.
Ada tes kesehatan lanjutan, tes kesamaptaan fisik, psikotes, wawancara, hingga tes mental ideologi.
Seluruh rangkaian ini dirancang untuk memastikan calon taruna tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga siap secara fisik dan mental.
Dengan kata lain, UTBK mungkin tidak digunakan, tetapi seleksi tetap menuntut kesiapan menyeluruh.
Ribuan Formasi, Persaingan Tetap Ketat
BACA JUGA: BREAKING NEWS! Kemenkeu Buka CPNS 2026 untuk Lulusan SMA—Gaji ASN Tanpa Kuliah Kini Jadi Kenyataan!
Berdasarkan data Badan Kepegawaian Negara, total formasi sekolah kedinasan 2025 mencapai 3.252 kursi.
Jumlah tersebut tersebar di delapan instansi penyelenggara pendidikan kedinasan.
Angka ini memberi gambaran kebutuhan sumber daya manusia di berbagai kementerian dan lembaga negara.
Namun jika dibandingkan dengan jumlah pendaftar yang biasanya mencapai puluhan bahkan ratusan ribu, persaingan tetap tergolong ekstrem.
Karena itu, memahami pola seleksi sejak dini menjadi kunci.
Informasi tentang sekolah kedinasan tanpa UTBK-SNBT bukan untuk membuat calon peserta lengah, melainkan sebagai bahan evaluasi strategi belajar dan persiapan fisik.
BACA JUGA: Pendaftaran SMA Pradita Dirgantara Tahun 2026/2027 Resmi Dibuka, Ini Syarat & Cara Daftarnya
Daftar Sekolah Kedinasan 2025 Tanpa UTBK-SNBT
Berikut institusi sekolah kedinasan 2025 yang tidak mewajibkan nilai UTBK-SNBT:
1. Kementerian Perhubungan (Kemenhub):
Politeknik Transportasi Darat Indonesia; Politeknik Perkeretaapian Indonesia (PPI) Madiun; PKTJ Tegal; Politeknik Transportasi Sungai, Danau, dan Penyeberangan Palembang; Politeknik Transportasi Darat Bali; STIP Jakarta; Politeknik Ilmu Pelayaran Makassar dan Semarang; Politeknik Pelayaran Surabaya, Sumatera Barat, Banten, Malahayati Aceh, Barombong, Sorong, Sulawesi Utara, Jayapura; Politeknik Penerbangan Indonesia Curug; Politeknik Penerbangan Makassar, Medan, Surabaya, Palembang; Akademi Penerbang Indonesia Banyuwangi.
2. Badan Pusat Statistik (BPS):
Politeknik Statistika STIS.
BACA JUGA: Polres Musi Rawas Gelar Operasi Gaktiblin di Sembilan Polsek Jajaran
3. Badan Intelijen Negara (BIN):
Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN).
4. Kementerian Dalam Negeri:
Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).
5. Kementerian Hukum dan HAM:
Politeknik Pengayoman Indonesia.
BACA JUGA: Daftar Nama Pejabat yang Dirotasi Walikota Prabumulih dari Lurah, Camat Hingga Kepala Dinas
6. BMKG:
Sekolah Tinggi Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (STMKG).
7. Kementerian Keuangan:
Politeknik Keuangan Negara STAN.
Acuan Penting Menuju Seleksi 2026
Bagi siswa kelas XI atau XII yang menargetkan seleksi 2026, data sekolah kedinasan 2025 ini bisa menjadi peta awal.
BACA JUGA: Mobil Dinas vs Honda Beat! Dua Luka Berat Langsung Dilarikan ke Rumah Sakit
Pola seleksi yang tidak lagi bergantung pada UTBK-SNBT memberi pesan jelas: persiapan tidak boleh hanya berfokus pada ujian akademik nasional.
Latihan soal SKD, peningkatan kebugaran fisik, menjaga kesehatan, hingga penguatan mental menjadi bagian yang tak terpisahkan.
Selain itu, memahami karakter masing-masing institusi juga krusial. Setiap sekolah kedinasan memiliki kultur, disiplin, dan tuntutan tugas yang berbeda.
Pada akhirnya, sekolah kedinasan bukan sekadar soal lolos seleksi, tetapi kesiapan menjalani proses pendidikan yang keras dan penuh tanggung jawab.
Tanpa UTBK-SNBT, jalur memang terbuka lebih variatif, namun hanya mereka yang mempersiapkan diri secara utuh yang mampu bertahan hingga garis akhir. (*/red)





