Air Mata Ayah di Sungai Musi, Pencarian Hari ke-2 Anak Belum Juga Ditemukan

oleh -254 Dilihat
oleh
Pencarian korban tenggelam di Sungai Musi Empat Lawang memasuki hari kedua. Ayah korban datang dengan harapan besar di tengah derasnya arus sungai, Minggu (25/1/2026). Foto: Istimewa

Ringkasan Berita:

Suasana haru menyelimuti bantaran Sungai Musi, Empat Lawang. Hingga hari kedua pencarian, Madon belum ditemukan. Ayah korban datang dini hari, berharap sang anak segera ditemukan di tengah upaya tanpa henti tim gabungan dan warga.


EMPAT LAWANG, LINTANGPOS.com – Suasana duka dan harap bercampur menjadi satu di bantaran Sungai Musi, wilayah Tebing Tinggi, Kabupaten Empat Lawang.

Deru arus sungai yang deras seolah menjadi latar bisu dari perjuangan panjang keluarga dan tim gabungan yang masih terus mencari seorang korban tenggelam bernama Madon.

Memasuki hari kedua pencarian, Minggu (25/1/2026), keberadaan Madon belum juga ditemukan.

Sejak pagi hingga malam, tim gabungan tanpa henti menyisir aliran Sungai Musi yang dikenal luas, dalam, dan memiliki arus yang kuat.

Sungai ini bukan hanya jalur air utama di wilayah Sumatera Selatan, tetapi juga menyimpan risiko besar bagi siapa pun yang beraktivitas di sekitarnya.

Di tengah pencarian yang melelahkan itu, suasana menjadi semakin haru ketika Saparoni, ayah korban, tiba di lokasi sekitar pukul 04.00 WIB dini hari.

BACA JUGA: Pemain Angklung Keliling Diduga Tenggelam di Sungai Musi

Dengan langkah pelan, ia berdiri di tepi sungai, menatap aliran air yang diyakini menjadi tempat terakhir anak bungsunya terlihat.

Raut wajah Saparoni tampak lelah. Matanya sembab, suaranya bergetar.

Ia datang bukan sekadar sebagai orang tua, melainkan sebagai seorang ayah yang menggantungkan seluruh harapannya pada tim pencari dan doa masyarakat sekitar.

Saparoni diketahui merupakan putra asli Desa Babatan, Kecamatan Lintang Kanan, Kabupaten Empat Lawang.

Sejak tahun 1993, ia merantau ke Palembang untuk mengadu nasib.

Kabar tenggelamnya sang anak membuatnya segera pulang ke kampung halaman, meninggalkan segala aktivitasnya demi satu tujuan, menemukan Madon.

BACA JUGA: Hujan Semalaman, 7 Desa di OKU Timur Tenggelam

“Dia anak bungsu kami dari lima bersaudara,” ujar Saparoni lirih.

Kalimatnya terhenti sejenak, seolah menahan luapan emosi yang sulit dibendung.

“Kami sangat berharap, supaya anak kami segera ditemukan,” lanjutnya, sembari memohon doa dan dukungan dari semua pihak.

Pencarian Madon melibatkan berbagai unsur.

Tim gabungan terdiri dari BPBD Kabupaten Empat Lawang, Camat Tebing Tinggi, enam personel Basarnas, serta empat anggota Tim SAR MA Muara Beliti, Kabupaten Musirawas.

Kolaborasi lintas daerah ini dilakukan untuk memperkuat proses pencarian yang tidak mudah.

Penyisiran dilakukan secara intensif dari titik awal korban diduga tenggelam hingga ke wilayah Desa Sugiwaras, daerah perbatasan antara Kabupaten Empat Lawang dan Musirawas.

BACA JUGA: Bocah 7 Tahun Hilang Diseret Arus, Jasad Ditemukan 24 Km dari Titik Tenggelam

Area ini dikenal memiliki aliran sungai yang lebar dengan kontur dasar yang sulit diprediksi.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Empat Lawang, Fero Ananta menyampaikan bahwa pencarian diperkuat dengan tambahan personel dari luar daerah.

Menurutnya, langkah ini diambil untuk memperbesar peluang menemukan korban secepat mungkin.

“Ada tambahan personel dari luar daerah yang ikut membantu pencarian. Semoga dengan kekuatan tambahan ini, korban segera ditemukan,” ujar Fero.

Namun, medan pencarian bukan tanpa tantangan.

Arus Sungai Musi yang deras menjadi hambatan utama.

BACA JUGA: Mobil Tenggelam di Jalan Desa! Hujan Deras Bikin Sungai Menang Seperti Danau Dadakan 3,5 Km

Selain itu, luasnya area penyisiran membuat proses pencarian membutuhkan waktu, tenaga, dan koordinasi yang matang.

Tim SAR harus ekstra waspada demi keselamatan personel yang terlibat.

Di luar tim resmi, solidaritas warga setempat patut diapresiasi.

Sejumlah warga secara sukarela turun langsung membantu pencarian.

Dengan peralatan seadanya, mereka ikut menyelam di beberapa titik yang dianggap rawan dan berpotensi menjadi lokasi korban tersangkut.

Devi, salah satu warga yang ikut dalam proses pencarian, mengatakan bahwa warga telah berupaya semaksimal mungkin.

BACA JUGA: 153 Desa Terancam Tenggelam? Banyuasin Resmi Siaga Banjir, Warga Diminta Bersiap!

“Kami sudah menyelam di beberapa titik sekitar lokasi tenggelamnya korban, tapi sampai sekarang belum berhasil menemukan korban,” katanya.

Meski demikian, semangat gotong royong tetap terasa kuat.

Warga silih berganti membantu, baik dengan tenaga, logistik, maupun doa.

Bantaran Sungai Musi kini menjadi tempat berkumpulnya harapan, kecemasan, dan kepedulian sosial yang jarang terlihat dalam keseharian.

Hingga berita ini diturunkan, proses pencarian masih terus berlangsung.

Tim gabungan berencana melanjutkan penyisiran dengan metode yang lebih luas dan terkoordinasi, menyesuaikan kondisi arus sungai dan cuaca.

BACA JUGA: Remaja Tenggelam di Curup Besemah Ditemukan Meninggal Dunia Setelah Dua Hari Pencarian

Bagi keluarga Madon, setiap detik terasa begitu panjang.

Setiap riak air Sungai Musi membawa harapan sekaligus ketakutan.

Namun satu hal yang pasti, mereka tidak sendiri.

Dukungan masyarakat dan kerja keras tim pencari menjadi bukti bahwa di tengah musibah, nilai kemanusiaan tetap hidup.

Sungai Musi hari ini bukan hanya saksi sebuah peristiwa tragis, tetapi juga saksi air mata seorang ayah, keteguhan keluarga, dan perjuangan bersama untuk menemukan seorang anak yang belum kembali ke pangkuan rumahnya. (*/red)

CEK BERITA LINTANGPOS.com di Google Search