JAKARTA, LINTANGPOS.com – Menjadi juara dua terkadang terasa lebih menyakitkan dibanding menjadi juara tiga.
Fenomena ini menjadi pesan menarik dalam reminder yang dibawakan pengisi suara Amirah Zerlett Seraj.
Melalui narasi sederhana, Amirah mengajak pendengar memahami mengapa seseorang bisa merasa kalah, padahal sebenarnya telah meraih sesuatu.
Salah satu contohnya adalah ketika seseorang ketinggalan pesawat karena terlambat tiga menit. Hasilnya memang sama dengan orang yang terlambat 45 menit, yakni sama-sama gagal naik pesawat.
BACA JUGA: Cuma Dua! Kampus Psikologi RI Tembus Ranking Dunia 2026
Namun, orang yang terlambat tiga menit biasanya akan terus berpikir, “Kalau gue berangkat lebih awal, pasti gue nggak ketinggalan.”
Hal ini terjadi karena semakin dekat seseorang dengan keberhasilan, terkadang semakin sakit pula rasanya ketika gagal.
Fenomena serupa juga terlihat dalam dunia olahraga. Peraih medali perak bisa merasa kecewa karena berpikir, “Gue hampir dapat emas.” Sementara peraih medali perunggu justru bisa merasa lebih bersyukur karena berhasil membawa pulang medali.
Pola ini dikenal sebagai counterfactual thinking, ketika otak menciptakan berbagai versi alternatif dari kenyataan dan membayangkan apa yang seharusnya bisa terjadi.
BACA JUGA: SMAN 1 Tebing Tinggi Ukir Prestasi di Palembang, Raih Juara II LCC Empat Pilar MPR RI tingkat Sumsel
Kata “hampir” pun sering kali terasa paling menyakitkan. Bukan hanya karena gagal, tetapi karena seseorang mampu membayangkan dirinya berhasil.
Namun, pesan penting dari reminder ini adalah bahwa kebahagiaan tidak hanya bergantung pada apa yang kita dapatkan, tetapi juga pada apa yang kita bandingkan.
Alih-alih terus melihat apa yang belum berhasil diraih, sesekali lihat kembali apa yang sudah dimiliki.
Karena terkadang, kemenangan terasa seperti kekalahan hanya karena kita terlalu fokus pada sesuatu yang hampir kita dapatkan.
BACA JUGA: PKS Empat Lawang Sabet Juara di Lomba Patroli Keamanan Siswa dan Kampung Tertib Lalu Lintas
Dan sesekali, tidak ada salahnya berhenti sejenak, melihat apa yang sudah dimiliki, lalu berkata: Alhamdulillah. (*/red)







