Beda dari Sekolah Kedinasan Lain! STMKG Kini Terima Taruna Berkacamata dan Bertubuh Rata-Rata—Ini Alasannya

oleh -128 Dilihat
STMKG mengubah syarat penerimaan: tinggi badan diturunkan, pengguna kacamata tetap boleh mendaftar, dan semua jurusan punya peluang selama kuat di sains. (*/ils)

Ringkasan Berita:

° STMKG menurunkan syarat tinggi badan dan tetap membuka peluang bagi calon taruna berkacamata.

° Ketua STMKG, Deni Septiadi, menegaskan fokus utama kini pada kemampuan analisis sains, bukan fisik.

° Jurusan IPS dan mahasiswa pun boleh mendaftar selama memenuhi syarat akademik.


JAKARTA, LINTANGPOS.com – Di tengah ketat dan seragamnya aturan masuk sekolah kedinasan di Indonesia, Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG) muncul sebagai pengecualian menarik.

Alih-alih menuntut fisik nyaris sempurna, kampus kedinasan di bawah BMKG ini justru mengambil langkah sebaliknya: lebih ramah, lebih inklusif, dan lebih berfokus pada otak daripada tubuh.

Salah satu aturan yang bikin banyak calon pendaftar terkejut adalah keputusan STMKG yang tetap menerima taruna dan taruni berkacamata.

Dengan batas lensa spheris maksimal minus 4D dan silindris maksimal minus 2D, para pengguna kacamata tak perlu minder.

Bahkan jika kelak ingin melakukan lasik, hal itu diperbolehkan—asal biaya sendiri.

“Sepanjang tidak buta warna, kami terima,” ujar Ketua STMKG, Deni Septiadi, ketika ditemui di kampus STMKG pada Senin (8/12/2025).

BACA JUGA: Wajib Tahu! Ini Daftar Sekolah Kedinasan yang Masih Membolehkan Mata Minus untuk Pendaftaran 2026

Dokterlah yang memverifikasi kondisi mata mereka, dan kampus tidak ikut campur.

Bagi calon yang mengalami buta warna, Deni tegas menyebutkan bahwa mereka memang tidak bisa diterima karena pekerjaan di BMKG menuntut ketelitian membaca warna—mulai dari citra penginderaan jauh hingga peta meteorologi.

Namun perubahan paling terasa ada pada aturan tinggi badan.

Jika sekolah kedinasan lain menetapkan batas setidaknya 160–165 centimeter, STMKG justru menurunkannya.

Tahun ini, tinggi minimal hanya 155 cm untuk pria dan 150 cm untuk wanita.

Menurut Deni, kebijakan ini sengaja diterapkan karena STMKG sedang melakukan transformasi.

BACA JUGA: Akhirnya Terungkap! Ini Daftar Sekolah Kedinasan 2026 yang Tidak Wajib Tinggi Badan—Peluang Makin Terbuka!

“Kami membekali anak-anak dengan keilmuan sains, terutama fisis MKGI. Yang kami cari itu kemampuan analisis dan wawasan sains, bukan fisik layaknya TNI atau polisi,” tuturnya.

Sebagai alumni yang mulai menjabat Ketua STMKG sejak Oktober 2024, Deni mengaku sempat mendapat pertanyaan soal kebijakan ini, namun ia yakin arah baru ini sesuai kebutuhan BMKG.

Kabar baik lainnya: STMKG membuka peluang untuk semua jurusan, termasuk anak IPS.

Tidak sedikit pelajar yang awalnya merasa tidak punya jalur ke sekolah kedinasan berbasis sains akhirnya menemukan celah lewat STMKG.

Selama kuat di matematika dan fisika—dan dibuktikan lewat nilai dan hasil tes—mereka punya kesempatan yang sama.

Usia pendaftar pun cukup luas, mulai dari 15 hingga 23 tahun.

Karena itu, bukan hal asing jika ada taruna yang sebelumnya sudah kuliah di perguruan tinggi lain bahkan sudah lulus, lalu memilih banting setir menuju STMKG.

BACA JUGA: BREAKING NEWS! Kemenkeu Buka CPNS 2026 untuk Lulusan SMA—Gaji ASN Tanpa Kuliah Kini Jadi Kenyataan!

Langkah STMKG ini menunjukkan bahwa kualitas SDM di dunia meteorologi dan geofisika tidak ditentukan oleh postur ideal, tapi oleh ketajaman analisis dan rasa ingin tahu yang kuat.

Di tengah perubahan iklim dan tantangan pemantauan cuaca yang semakin kompleks, kampus ini jelas sedang membuka pintu bagi lebih banyak talenta yang ingin berkontribusi. (*/red)

CEK BERITA LINTANGPOS.com di Google Search 

No More Posts Available.

No more pages to load.