Chozali, Penjaga Jejak Si Pahit Lidah dari Pagar Alam

oleh -427 Dilihat
Sumber: Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Selatan.

Tradisi semacam inilah yang disebut tradisi lisan, tuturan yang diwariskan secara turun-temurun, termasuk sejarah lisan, dongeng, rapalan, pantun, dan cerita rakyat.

BACA JUGA: Legenda Pendekar Penjaga Gerbang Empat Lawang 

Tradisi lisan menjadi salah satu dari sepuluh objek pemajuan kebudayaan yang penting untuk dilestarikan.

Bukan Sekadar Legenda

Cerita Si Pahit Lidah mungkin terdengar seperti kisah kesaktian dari masa lampau.

Tetapi di balik tokoh Serunting Sakti, tersimpan sesuatu yang jauh lebih penting: cara sebuah masyarakat menjaga ingatan tentang leluhurnya.

Chozali menjadi salah satu mata rantai dari proses pewarisan tersebut.

Selama cerita masih dituturkan, nama Serunting Sakti belum benar-benar hilang.

BACA JUGA: Misteri Antu Banyu, Legenda Hantu Air Penunggu Sungai Musi yang Masih Hidup di Tengah Masyarakat Sumsel

Selama generasi muda masih mau mendengarkan, kisah Si Pahit Lidah akan terus menemukan jalannya dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Di Pagar Alam, legenda itu tidak hanya hidup di dalam buku.

Ia hidup dalam tutur masyarakat, dalam ingatan tentang tempat-tempat yang dikaitkan dengan kisahnya, dan dalam suara para pewaris tradisi seperti Chozali.

Karena terkadang, sebuah legenda tidak bertahan karena ditulis, melainkan karena masih ada orang yang bersedia menceritakannya.

BACA JUGA: Rumah Rakit Sungai Musi, Warisan Budaya Terapung dari Palembang

Sumber: Sriksetra, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VI (Sumatera Selatan), Desember 2024. Menghidupi Ruang Budaya: Merawat Warisan Pitarah Nan Luhur Di Sumatera Selatan. Penulis: Dedy Afrianto. (*/gia)

CEK BERITA LINTANGPOS.com di Google Search