Categories: Headline Pagaralam Sumsel

Chozali, Penjaga Jejak Si Pahit Lidah dari Pagar Alam

Pertikaian akhirnya diselesaikan melalui sebuah pertarungan di dekat Danau Ranau. Mereka sepakat menggunakan tandan buah enau sebagai alat untuk menentukan siapa yang kalah.

Si Badrin mendapat kesempatan pertama. Ia menaiki pohon dan menjatuhkan tandan enau kepada Riye Tabing. Namun, tandan tersebut tidak mengenai sasarannya.

BACA JUGA: Si Pahit Lidah, Legenda Sakti yang Terus Hidup di Sumatera Selatan

Alasannya, Riye Tabing dipercaya memiliki empat mata dua di depan dan dua di belakang sehingga mampu menghindari serangan.

Ketika giliran Riye Tabing berada di atas pohon, keadaan berubah.

Tandan enau yang dijatuhkannya mengenai Si Badrin. Dalam keadaan sekarat, Si Badrin mengucapkan kata-kata yang kemudian menjadi penentu akhir hidupnya.

Ia berkata, “Matilah aku.”

Dalam keyakinan yang berkembang dalam cerita, perkataan Si Badrin selalu menjadi kenyataan. Ia pun meninggal.

BACA JUGA: Bujang Gadis Empat Lawang Ukir Prestasi di Putra Putri Sriwijaya

Namun, kisah belum benar-benar berakhir.

Riye Tabing yang penasaran dengan kesaktian lidah Si Badrin kembali mendatangi jasadnya. Ia mencicipi bekas liur di lidah Si Badrin.

Tak lama kemudian, Riye Tabing juga meninggal.

Dari sinilah julukan Si Pahit Lidah semakin melekat pada Serunting Sakti, tokoh yang dipercaya memiliki kekuatan luar biasa pada setiap perkataannya.

Chozali dan Ingatan yang Tak Boleh Hilang

Jasad Si Badrin kemudian disebut dibawa keluarganya ke puncak bukit di Desa Pelang Kenidai. Di tempat inilah terdapat makam yang diyakini masyarakat sebagai makam Serunting Sakti.

BACA JUGA: Legenda Muara Kelingi dan Amarah Sungai Lintang

Bagi Chozali, keberadaan makam dan cerita yang menyertainya bukan sekadar peninggalan masa lalu. Keduanya menjadi bagian dari ingatan budaya masyarakat Pagar Alam.

Kisah Serunting Sakti sendiri telah masuk dalam Sejarah Nasional 1 sebagai legenda yang berkembang di kawasan dataran tinggi atau Bukit Barisan.

Yang membuat cerita ini tetap hidup bukan hanya keberadaan makam atau lokasi-lokasi yang dikaitkan dengannya, tetapi juga masyarakat yang terus menceritakannya kepada generasi berikutnya.

Page: 1 2 3 4

Legina Ainil Valensi

Share
Tags: Chozali Pagar Alam Serunting Sakti Si Pahit Lidah Tari Kebagh Pagar Alam Tradisi Lisan Sumatra Selatan

Recent Posts

  • Berita
  • Empat Lawang
  • Pemerintahan
  • Sumsel

Bupati Joncik Harap Mahasiswa Unhan Motivasi Siswa Sekolah Rakyat

Bupati Joncik Muhammad berharap tujuh mahasiswa Unhan yang ditugaskan di Sekolah Rakyat Empat Lawang mampu…

6 hari ago
  • Berita
  • Empat Lawang
  • Politik
  • Sumsel

Budi Antoni Kembali ke Golkar: Rangkul Kader, Bukan Bermusuhan!

Budi Antoni Aljufri menegaskan kembali ke Golkar untuk berkarya bagi masyarakat. Ia menyebut perbedaan politik…

1 minggu ago
  • Berita

Rhendy Andrea Terpilih Aklamasi Pimpin Golkar Empat Lawang

Rhendy Andrea terpilih aklamasi sebagai Ketua DPD II Golkar Empat Lawang periode 2026–2030 dalam Musda…

1 minggu ago
  • Berita

Arifa’i Sebut Golkar Mitra Strategis Bangun Empat Lawang

Wakil Bupati Arifa’i berharap Musda Golkar Empat Lawang melahirkan kader terbaik dan memperkuat sinergi partai…

1 minggu ago
  • Berita

Calon Ketua DPD Partai Golkar Empat Lawang Mengerucut ke Satu Nama

Verifikasi DPD Golkar Sumsel menemukan kekurangan kecil dalam berkas pencalonan. Dari dua pengambil berkas, hanya…

1 minggu ago
  • Berita
  • Empat Lawang
  • Politik
  • Sumsel

David Aljufri Dorong Kaderisasi Jelang Musda Golkar Empat Lawang

David Hardianto Aljufri menekankan kaderisasi menjelang Musda Golkar Empat Lawang. Ia berharap pengurus baru memperkuat…

1 minggu ago