Ketika selendang kembali berada di tubuhnya, bidadari bungsu mulai menari. Dalam kisah yang diwariskan masyarakat Pagar Alam, ia kemudian terbang menuju kayangan.
Tarian yang dikaitkan dengan peristiwa tersebut dipercaya menjadi bagian dari cerita asal-usul Tari Kebagh, salah satu kesenian yang dikenal masyarakat Pagar Alam.
Perseteruan Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat
Setelah kehilangan bidadari bungsu, Si Badrin melanjutkan hidup bersama Putri Bimbang Ati.
Dari sinilah muncul konflik dengan saudara iparnya, Riye Tabing, yang dikenal dengan julukan Si Mata Empat.
BACA JUGA: Pentas Tayub di Ngandong: Harmoni Budaya Jawa yang Menghidupkan Semangat Desa
Perselisihan keduanya bermula dari perebutan jamur emas yang tumbuh pada pohon besar yang tumbang di antara ladang mereka.
Keduanya sama-sama dipercaya memiliki kesaktian.
Pertikaian akhirnya diselesaikan melalui sebuah pertarungan di dekat Danau Ranau. Mereka sepakat menggunakan tandan buah enau sebagai alat untuk menentukan siapa yang kalah.






