Guru SMAN 16 Palembang Minta Maaf Usai Tampar Rekan, Kasus Viral dan Berujung Laporan Polisi

oleh -104 Dilihat
Kasus guru menampar rekan di SMAN 16 Palembang viral. Pelaku Suretno minta maaf. Sumber: tiktok.com/@mediacakrabuana

Ringkasan Isi Berita:
° Kasus penganiayaan antarguru di SMAN 16 Palembang menjadi sorotan setelah video kejadian viral di media sosial.

° Guru bernama Suretno (SR), yang juga bendahara Dana BOS, meminta maaf usai menampar rekannya, Yuli Nuriza, dalam cekcok soal tanda tangan berkas sertifikasi.

° Meski mengaku khilaf dan berharap mediasi, Yuli telah melaporkan peristiwa itu ke Polsek Sako.

° Polisi kini tengah memproses laporan tersebut.


Palembang, LintangPos.com Kasus penganiayaan antarguru di SMA Negeri 16 Palembang mendadak viral setelah rekaman CCTV dan video dari lokasi tersebar luas di media sosial.

Dalam video yang beredar, seorang guru perempuan bernama Yuli Nuriza menjadi korban penganiayaan yang dilakukan oleh rekannya, Suretno (SR), yang menjabat sebagai Bendahara Dana BOS di sekolah tersebut.

Peristiwa ini terjadi pada Rabu siang, 15 Oktober 2025, di area sekolah yang berlokasi di Jalan Lebak Murni, Kecamatan Sako, Palembang.

Keributan bermula dari perselisihan seputar tanda tangan kepala sekolah (Kepsek) yang diperlukan untuk melengkapi berkas sertifikasi guru.

Menurut keterangan korban, Yuli, ia hanya bermaksud mengembalikan berkas sertifikasi yang sudah ditandatanganinya kepada operator sekolah untuk diserahkan kepada Kepala Sekolah.

Namun, operator menolak berkas tersebut dengan alasan sebelumnya Kepala Sekolah sudah memarahinya karena Yuli tidak menghadap langsung.

BACA JUGA: Sekolah Rakyat di Empat Lawang Bakal Dibangun dengan Nilai Rp100 Miliar

“Saya merasa tidak perlu menghadap langsung karena itu hanya urusan administrasi biasa,” ungkap Yuli Nuriza saat diwawancarai.

Ketegangan memuncak saat Yuli berpapasan dengan SR di depan ruang operator.

“Dia ngoceh-ngoceh, saya tanya ‘nak ngapo kau’, tiba-tiba dia menampar saya dan mendorong saya sampai kepala saya dibenturkan ke dinding,” beber Yuli.

Keributan itu segera dilerai oleh guru-guru lain, namun aksi tersebut sudah sempat terekam CCTV dan menyebar cepat di media sosial.

Pelaku Mengaku Khilaf dan Minta Maaf

Di sisi lain, Suretno (SR) yang kini tengah dirawat di rumah sakit karena luka cakaran di leher dan tangan terinfus, menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada Yuli.

BACA JUGA: Viral! Guru Ngaji Diduga Diusir Lurah Talang Betutu Saat Urus Validasi Meteran Mushola

“Semula saya terlibat cekcok mulut sama dia, akibatnya saya menampar dia. Terjadi dorong-dorongan sampai kancing baju saya lepas,” ujarnya dikutip dari video yang diunggah akun TikTok @mediacakrabuana.

Suretno mengaku menyesal atas perbuatannya dan berharap masalah ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan.

“Kalau bisa mediasi dengan baik-baik, saya mohon maaf nian, Ibu Yuli. Saya khilaf, tidak disengaja. Tolong, saya punya keluarga. Kalau saya berhenti kerja, kasihan anak bini saya,” ucapnya lirih.

Namun hingga kini korban Yuli tetap melanjutkan proses hukum dengan melapor ke SPKT Polsek Sako Palembang pada hari kejadian.

Laporan Polisi dan Penanganan Kasus

Kapolsek Sako AKP Makmun Nartawinata melalui Kanit Reskrim AKP Apriansyah membenarkan adanya laporan dugaan penganiayaan tersebut.

BACA JUGA: Guru PNS SMAN 16 Palembang Diduga Dianiaya Rekan Sesama Guru PPPK, Kepala Dibenturkan ke Dinding

“Benar memang ada laporan hari Rabu kemarin. Saat ini kami sedang menindaklanjuti laporan tersebut,” tegas Apriansyah.

Korban Yuli sempat dirawat di RSK Hospital Kenten akibat pembengkakan di kepala. Sementara pelaku SR masih menjalani perawatan di rumah sakit dengan pengawasan pihak kepolisian.

Kasus ini memicu perhatian publik setelah video penganiayaan dan permintaan maaf pelaku beredar luas di platform TikTok dan media sosial lainnya.

Banyak warganet menyerukan agar penyelesaian dilakukan secara adil tanpa mengabaikan aspek kemanusiaan dan profesionalitas guru.

Latar Belakang Ketegangan di Sekolah

Informasi yang dihimpun menyebutkan, hubungan antara Yuli dan SR memang sudah kurang harmonis sejak beberapa waktu lalu.

BACA JUGA: Tradisi Bekarang Jadi Inspirasi FKIP UM Palembang Tingkatkan Profesionalisme Guru

SR bahkan mengaku sering dibully oleh korban, sementara Yuli menilai SR memiliki dendam lama karena dirinya disangka ikut melaporkan kasus ke Inspektorat yang melibatkan SR dan Kepala Sekolah.

“Mereka menuduh saya melaporkan ke Inspektorat, padahal itu tidak benar,” tegas Yuli.

Kasus ini kini menjadi perhatian Dinas Pendidikan Sumatera Selatan, yang disebut sedang mengumpulkan data untuk menilai pelanggaran kode etik guru di sekolah negeri tersebut.

Publik Soroti Etika dan Profesionalitas Guru

Kasus SMAN 16 Palembang ini memunculkan perdebatan publik mengenai profesionalitas tenaga pendidik dan cara menyelesaikan konflik internal sekolah.

Banyak pihak menilai bahwa konflik personal seharusnya tidak mencederai martabat profesi guru.

BACA JUGA: Guru dan Komite SMA Negeri 1 Merapi Barat Tolak Kepemimpinan Kepala Sekolah

“Guru adalah teladan, jadi seharusnya bisa menahan diri dan menyelesaikan permasalahan dengan kepala dingin,” tulis salah satu komentar warganet.

Sementara itu, beberapa pihak berharap kasus ini bisa menjadi pelajaran penting bagi lingkungan pendidikan, agar sistem komunikasi dan penyelesaian konflik di sekolah dapat diperbaiki, menghindari terulangnya kekerasan fisik antartenaga pendidik. (*/red)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.