Harga Emas dan Ayam Naik, Inflasi Sumsel Tetap Jinak! Ini Jurus Jitu Pemerintah Menahannya

oleh -83 Dilihat
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumsel, Bambang Pramono. Foto: dok/IST

Ringkasan Berita:

° Inflasi Sumatera Selatan Oktober 2025 tercatat 0,13% (mtm), turun dari bulan sebelumnya, namun tahunan naik tipis ke 3,49% (yoy).

° Kenaikan harga emas dan pangan jadi pemicu, tapi TPID sigap menahan laju dengan operasi pasar, kerja sama antar daerah, dan program ketahanan pangan.


Palembang, LintangPos.com – Provinsi Sumatera Selatan mencatat inflasi sebesar 0,13 persen (mtm) pada Oktober 2025, menurun dari bulan sebelumnya yang mencapai 0,27 persen.

Namun, secara tahunan inflasi tercatat 3,49 persen (yoy), sedikit naik dibandingkan September 2025 sebesar 3,44 persen.

Kenaikan ini sejalan dengan tren nasional yang meningkat menjadi 2,86 persen (yoy).

Meski ada kenaikan tahunan, capaian tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1 persen, menandakan inflasi di Sumatera Selatan tetap terkendali.

Penyumbang utama inflasi bulan Oktober datang dari emas perhiasan (0,15 persen mtm), diikuti telur ayam ras (0,06 persen), daging ayam ras (0,05 persen), serta wortel dan ketimun yang memberi andil kecil.

Kenaikan harga emas dipicu oleh ketidakpastian ekonomi global, yang membuat logam mulia makin diburu sebagai aset aman.

BACA JUGA: Herman Deru Luncurkan Sultan Muda Privilege Card, Gerakan Ekonomi Digital Anak Muda Sumsel

Sementara itu, harga ayam dan telur terdorong oleh naiknya biaya produksi.

Pasokan komoditas hortikultura juga terganggu akibat curah hujan tinggi di sentra produksi.

Menjelang Natal dan Tahun Baru 2026, potensi tekanan inflasi masih bisa berlanjut seiring meningkatnya konsumsi masyarakat.

Musim hujan yang bersamaan dengan musim tanam juga berpotensi memengaruhi harga pangan, terutama kelompok volatile food.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Selatan memperkuat strategi 4K — keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Langkah nyata dilakukan melalui operasi pasar murah, gerakan pangan murah, dan kerja sama dengan Perum Bulog dalam pendistribusian beras SPHP.

BACA JUGA: Kapolsek Ulu Musi Hadiri Launching SPPG Lestari, Dorong Kemandirian Ekonomi Warga

Pemerintah juga menyalurkan bahan pokok terjangkau lewat Toko KePo, RPK, dan Toko Penyeimbang milik Perumda Pasar Palembang Jaya.

TPID rutin melakukan sidak ke pasar dan distributor, termasuk di Pasar Induk Jakabaring pada 31 Oktober 2025, guna memastikan harga sesuai HET dan stok aman.

Dari sisi ketahanan pangan, Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) 2025 terus digalakkan lewat tiga program: GSMP Menyapa Lingkungan Desa (Menyala), GSMP Goes to Panti Sosial, dan GSMP Goes to Office.

Program ini telah menjangkau lebih dari 1.000 rumah tangga dan 68 kelompok wanita tani (KWT) di seluruh provinsi.

Bank Indonesia bersama TPID juga menyalurkan bantuan bibit, benih, serta sarana budidaya cabai dan bawang merah.

Pelatihan, capacity building, hingga penghargaan bagi peserta terbaik turut digelar untuk menjaga semangat kemandirian pangan.

BACA JUGA: Empat Lawang Ambil Bagian Matangkan Roadmap Pengendalian Inflasi 2025

Dari sisi distribusi, TPID Sumsel memperkuat kerja sama antar daerah melalui penandatanganan MoU dan PKS KAD pada 22 Oktober 2025 dengan sejumlah daerah di Sumatera Barat.

Sebagai hasil konkret, 14 ton bawang merah dikirim dari Kabupaten Solok ke Palembang untuk menstabilkan pasokan dan harga.

Seluruh upaya tersebut ditopang oleh komunikasi publik yang masif, lewat forum koordinasi, rapat, dan publikasi informasi agar masyarakat memahami kebijakan pengendalian inflasi.

Ke depan, Bank Indonesia Sumatera Selatan dan Pemerintah Daerah berkomitmen memperkuat sinergi menjaga stabilitas harga serta ketahanan pangan.

Program strategis seperti GNPIP dan GSMP akan terus dioptimalkan guna memperkuat fondasi ekonomi daerah yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan. (*/rls)

CEK BERITA LINTANGPOS.com di Google Search