Ringkasan Berita:
° Samsung menaikkan harga chip RAM DDR5 hingga 60% akibat ledakan permintaan pusat data AI.
° Kenaikan ini mulai menekan produsen smartphone seperti Xiaomi dan diprediksi bakal membuat harga ponsel flagship 2025–2026 ikut terkerek.
JAKARTA, LINTANGPOS.com – Di tengah hiruk-pikuk perkembangan kecerdasan buatan, ada satu industri yang ikut “kepanasan”: pasar memori.
Samsung, raksasa semikonduktor dunia, baru saja membuat langkah besar yang bisa berimbas langsung ke dompet konsumen dalam waktu dekat.
Harga chip RAM DDR5 melonjak tajam—bahkan hingga 60% hanya dalam dua bulan—dan efeknya sudah mulai terasa di lini produk elektronik, termasuk smartphone yang setiap hari kita gunakan.
Gelombang AI yang Membuat Harga Melonjak
Kebutuhan pusat data AI yang meledak menjadi biang kerok.
Perusahaan teknologi besar berlomba-lomba membangun data center baru, membeli chip memori dalam jumlah masif untuk melatih dan menjalankan model AI generasi baru.
BACA JUGA: Fenomena Baru di OKI–OI: Istri Ramai-Ramai Gugat Cerai, Angkanya Tembus Rekor!
Permintaan menggunung, sementara pasokan tidak mampu menyesuaikan dengan cepat.
Dari sinilah kenaikan harga dimulai. Menurut laporan Reuters, harga modul DDR5 32 GB buatan Samsung meroket dari USD 149 pada September menjadi USD 239 pada November.
Kenaikan pada chip 16 GB dan 128 GB berkisar di 50%, sementara konfigurasi lain naik di atas 30%.
Samsung belum memberikan komentar resmi, namun sumber industri memverifikasi lonjakan tersebut.
Situasi ini menimbulkan reaksi berantai. Distributor mulai panik, beberapa pembeli melakukan panic buying, bahkan SMIC—pemain besar chip asal Tiongkok—mengaku perusahaan mulai menunda pembelian chip lain karena memori terlalu sulit dicari.
Produsen Smartphone Mulai Menjerit
Urutannya sederhana: harga memori naik → biaya produksi naik → harga ponsel terancam ikut naik.
Xiaomi menjadi salah satu pihak pertama yang mengaku terkena imbas.
Presiden Xiaomi, Lu Weibing, menyatakan bahwa kenaikan biaya memori membuat harga peluncuran Redmi K90 harus dinaikkan dibanding seri K80 sebelumnya. Dan itu bisa jadi baru permulaan.
Tipster terpercaya Digital Chat Station bahkan menyebut kenaikan ini “lebih serius dari yang diperkirakan” dan menegaskan bahwa dalam beberapa bulan terakhir, gelombang peluncuran ponsel baru sudah membuktikannya.
Ia memperkirakan harga flagship tahun depan akan naik 20–30% karena memori LPDDR5X juga menunjukkan tren kenaikan tajam.
Apa Dampaknya untuk Konsumen?
Smartphone kelas atas seperti Galaxy S25 Ultra sudah berada di level harga premium.
Jika harga RAM terus meroket, produsen hanya punya beberapa pilihan: menaikkan harga jual, mengurangi margin, atau menurunkan kapasitas memori pada model dasar.
Mana pun pilihannya, konsumen tetap merasakan efeknya.
Dengan kesepakatan pasokan memori yang kabarnya sudah mengunci harga hingga 2026–2027, kondisi ini tampaknya bukan badai sementara, melainkan “cuaca baru” bagi industri teknologi.
Siap-Siap Era Baru Harga Smartphone
Kenaikan harga memori adalah alarm dini bahwa smartphone berkapasitas besar—terutama yang dibekali fitur AI berat—akan semakin mahal.
Pertanyaannya: apakah konsumen lebih memilih fitur AI super cerdas, atau harga ponsel yang tetap bersahabat?
Industri sedang bergerak ke arah yang jelas: naik. Dan untuk tahun 2026, kita mungkin harus mulai menyiapkan anggaran ekstra. (*/red)





