Harga Sawit Terus Naik, Petani Kok Masih Mengeluh!

oleh -62 Dilihat
oleh
Harga TBS kelapa sawit di OKU naik jadi Rp 3.280/kg di pabrik. Namun petani masih menjual di bawah Rp 3.000/kg akibat biaya angkut dan operasional. (*/Ils)

Ringkasan Berita:

Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten OKU, Sumatera Selatan, kembali naik menjadi Rp 3.280/kg di tingkat pabrik. Kenaikan yang berlangsung tiga pekan terakhir ini belum sepenuhnya dirasakan petani karena harga di kebun masih jauh lebih rendah.


OKU, LINTANGPOS.com – Kabar kenaikan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan petani dan pelaku usaha sawit di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan.

Setelah sempat stagnan di awal tahun, harga TBS di tingkat pabrik kini menunjukkan tren positif dan konsisten meningkat dalam tiga minggu terakhir.

Pada Senin (26/01/2026), harga TBS kelapa sawit di Kabupaten OKU resmi dipatok di angka Rp 3.280 per kilogram untuk tingkat pabrik.

Angka ini menjadi angin segar, terutama bagi para pengepul dan petani yang sebelumnya sempat khawatir harga sawit kembali melemah seperti akhir tahun lalu.

Pedagang pengepul buah sawit, Anwar (46), mengungkapkan bahwa kenaikan harga ini sudah berlangsung secara bertahap sejak awal Januari 2026.

Menurutnya, harga TBS di minggu pertama Januari masih berada di kisaran Rp 3.230 per kilogram.

BACA JUGA: Subuh Berdarah di Kebun Sawit! Pemuda 22 Tahun Ditemukan Tewas, Leher Hampir Terputus

“Sekarang sudah naik Rp 50 per kilo. Kenaikan ini sudah jalan hampir tiga minggu terakhir,” kata Anwar kepada wartawan, Senin (26/1/2026).

Anwar menjelaskan, tren kenaikan harga ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, mulai dari permintaan pabrik yang meningkat hingga pasokan buah sawit yang tidak terlalu melimpah akibat faktor cuaca.

Kondisi ini membuat pabrik berani menaikkan harga beli demi menjaga ketersediaan bahan baku.

“Kalau stok menipis sementara permintaan tetap, biasanya harga ikut naik. Apalagi kualitas buah petani juga lagi bagus,” tambahnya.

Harga Naik, Tapi Belum Merata

Meski harga TBS di tingkat pabrik mengalami kenaikan, kondisi berbeda justru dirasakan oleh petani sawit di lapangan.

BACA JUGA: Tiga Tahun Kabur! Sopir Sawit Akhirnya Diciduk di Rumahnya Saat Malam Hari, Apa Kasusnya?

Salah seorang petani sawit di Kecamatan Semidang Aji, Kabupaten OKU, Ridwan (62), menyebutkan bahwa harga yang diterima petani masih berada jauh di bawah harga pabrik.

“Di tingkat petani masih di kisaran Rp 2.900 per kilo. Selisihnya sekitar Rp 500 dibandingkan harga pabrik,” ujar Ridwan.

Menurut Ridwan, perbedaan harga tersebut bukan tanpa alasan. Proses penjualan buah sawit dari kebun hingga ke pabrik membutuhkan biaya tambahan yang tidak sedikit.

Mulai dari ongkos panen, biaya menaikkan buah ke truk, hingga ongkos angkut ke pabrik menjadi faktor utama yang menekan harga di tingkat petani.

“Belum lagi kalau kebunnya jauh dari jalan besar atau pabrik. Ongkos angkut bisa lebih mahal,” jelasnya.

Beban Biaya Masih Jadi Keluhan

BACA JUGA: Terbongkar! Warga Bangun Jaya Ditangkap Tengah Malam, Simpan Sajam & Curi Sawit

Kondisi ini membuat sebagian petani mengaku belum sepenuhnya merasakan dampak positif dari kenaikan harga TBS di pabrik. Bagi petani skala kecil, selisih Rp 400–Rp 500 per kilogram cukup signifikan, terutama jika hasil panen tidak terlalu banyak.

Ridwan menambahkan, meski harga sawit saat ini terbilang lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, biaya operasional yang terus meningkat membuat keuntungan petani tetap terbatas.

“Solar mahal, ongkos buruh naik, pupuk juga mahal. Jadi meskipun harga sawit naik, hasil bersihnya belum tentu ikut naik,” katanya.

Harapan Petani di Tengah Tren Positif

Meski masih menghadapi berbagai tantangan, para petani tetap berharap tren kenaikan harga sawit ini bisa berlanjut hingga beberapa bulan ke depan.

Kestabilan harga dinilai sangat penting agar petani bisa menutup biaya produksi dan mendapatkan keuntungan yang layak.

BACA JUGA: 10 Hari Hilang, Warga Gempar Saat Temukan Mayat di Kebun Sawit Megang Sakti!

“Harapan kami harga ini bisa bertahan, jangan cuma naik sebentar lalu turun lagi,” ujar Ridwan.

Senada dengan itu, Anwar juga menilai bahwa jika kondisi pasar global dan permintaan ekspor tetap stabil, harga sawit berpotensi bertahan di level saat ini atau bahkan naik tipis.

“Biasanya kalau sudah naik di akhir Januari, ada peluang bertahan sampai Maret. Tapi semua tergantung kondisi pasar,” katanya.

Sawit Masih Jadi Andalan Ekonomi Daerah

Kelapa sawit hingga kini masih menjadi komoditas unggulan dan tulang punggung perekonomian masyarakat di Kabupaten OKU.

Ribuan kepala keluarga menggantungkan hidup dari sektor ini, baik sebagai petani, buruh kebun, maupun pelaku usaha turunannya.

BACA JUGA: Gebrakan Baru! Muba Buka ‘Jalur Cepat’ Pendidikan Gratis untuk Cetak SDM Sawit Kelas Industri

Kenaikan harga TBS, meski belum sepenuhnya dirasakan merata, tetap memberi harapan baru bagi roda ekonomi daerah.

Perputaran uang di desa-desa penghasil sawit mulai terasa meningkat, terutama menjelang akhir bulan.

Dengan tren harga yang cenderung positif, masyarakat berharap ada kebijakan atau mekanisme yang dapat memperkecil selisih harga antara tingkat petani dan pabrik.

Transparansi harga, efisiensi rantai distribusi, serta dukungan infrastruktur dinilai menjadi kunci agar kesejahteraan petani sawit benar-benar meningkat.

Untuk sementara, petani di OKU memilih tetap bersabar dan berharap tren kenaikan harga sawit ini bukan sekadar lonjakan sesaat, melainkan awal dari stabilitas harga yang lebih baik di sepanjang tahun 2026. (*/red)

No More Posts Available.

No more pages to load.