Hasil Uji Lab Kasus MBG Kepahiang Belum Terungkap

oleh -92 Dilihat
oleh
Dinkes Kepahiang masih menunggu hasil uji laboratorium BPOM terkait dugaan keracunan menu MBG yang menimpa 16 korban di SDN 18 Taba Tebelet. (*/dok/Lintang Pos/Darul Qutni)

KEPAHIANG, LINTANGPOS.com – Hasil uji laboratorium terhadap sampel menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga menyebabkan keracunan massal di SDN 18 Taba Tebelet, Kabupaten Kepahiang, hingga Kamis (11/6/2026) petang masih belum diterima oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kepahiang, Wisnu Irawan, S.Kep, mengatakan pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium yang dilakukan oleh BPOM.

“Belum, hasil pengujian sampel dari BPOM belum kami terima,” ujar Wisnu saat dikonfirmasi.

Belum terbitnya hasil resmi tersebut menimbulkan tanda tanya di tengah masyarakat.

BACA JUGA: Upload Foto Menu MBG Bisa Dipidana? Simal Klarifikasi BGN Berikut!

Publik berharap proses pengujian berlangsung transparan dan hasilnya segera diumumkan guna mengungkap penyebab pasti insiden yang menyebabkan belasan siswa, seorang guru, dan seorang penjaga sekolah mengalami keracunan.

Keterlambatan keluarnya hasil laboratorium juga berdampak pada operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Taba Tebelet yang dikelola Yayasan Putri Bungsu Asia.

Sejak insiden terjadi, dapur penyedia MBG tersebut tidak lagi menyalurkan makanan kepada penerima manfaat.

Padahal, SPPG Taba Tebelet melayani sekitar 1.700 penerima manfaat Program MBG yang tersebar di lima sekolah di wilayah Kabupaten Kepahiang.

BACA JUGA: Tak Mau Anak Terlewat, MBG Empat Lawang Tembus Wilayah Pelosok

Sebagai bagian dari penyelidikan, petugas telah mengambil sejumlah sampel makanan yang disajikan pada hari kejadian.

Sampel tersebut meliputi nasi, pergedel tahu, sambal telur, buah salak, serta tumis jagung dan kol.

Selain itu, sisa makanan dalam kemasan plastik, air minum isi ulang, dan dua botol sampel air sumur dari dapur SPPG Taba Tebelet juga turut diamankan untuk diperiksa.

Hasil pemeriksaan laboratorium nantinya akan menjadi dasar bagi pemerintah dan aparat penegak hukum dalam menentukan langkah lanjutan, termasuk evaluasi terhadap standar kebersihan, sanitasi, serta kelayakan operasional dapur penyedia makanan MBG.

BACA JUGA: Only 72% of South Sumatra MBG Kitchens Meet Hygiene Standards

Diketahui, insiden keracunan terjadi setelah para korban mengonsumsi menu MBG pada 4 Juni 2026.

Sebanyak 16 orang dilaporkan mengalami gejala keracunan, terdiri dari 14 murid, seorang guru, dan seorang penjaga sekolah.

Hingga kini, penyebab pasti kejadian tersebut masih menunggu hasil uji laboratorium dari BPOM. (*/drl)

CEK BERITA LINTANGPOS.com di Google Search