Jahe Kepahiang Terserang Penyakit, Petani Panen Dini dan Rugi Besar!

oleh -1405 Dilihat
oleh
Petani jahe Kepahiang panen dini akibat busuk rimpang. Tanpa pendampingan, kualitas turun dan harga anjlok, memicu kerugian besar. Foto: Istimewa

Patogen ini dikenal ganas karena menyerang sistem perakaran dan rimpang tanaman, menyebabkan jaringan membusuk dari dalam.

Jika tidak ditangani sejak dini, penyakit ini dapat memusnahkan satu hamparan lahan dalam waktu singkat.

“Kami sempat mengira ini virus. Tapi setelah melihat gejalanya lebih dekat, ternyata jamur. Yang bikin kami kesal, selama ini tidak pernah ada penyuluhan tentang penyakit seperti ini. Kami seperti dibiarkan belajar sendiri,” kata Sugiman dengan nada kecewa.

Ketiadaan penyuluhan dan pendampingan teknis menjadi sorotan utama para petani.

Banyak di antara mereka mengaku tidak memahami langkah pencegahan, pengendalian, maupun perlakuan pascapanen yang tepat saat tanaman terserang penyakit.

BACA JUGA: Dari Balik Jeruji Tumbuh Harapan! Lapas Empat Lawang Panen Keterampilan Lewat Program Melon Produktif

Dampak ekonomi dari panen prematur ini pun sangat terasa. Jahe hasil panen dini berukuran lebih kecil, teksturnya lebih lunak, dan kandungan patinya rendah.

Kondisi tersebut membuat harga jual jatuh bebas di tingkat pengumpul.

Suyatmi (39), petani jahe dari desa yang sama, mengungkapkan bahwa harga jahe yang biasanya bisa menembus Rp17.000 per kilogram kini hanya dihargai sekitar Rp12.000 per kilogram.

Bahkan, pada beberapa kasus, selisih harga bisa mencapai Rp5.000 per kilogram.

“Penggepul bilang kualitasnya tidak bagus karena dipanen terlalu muda. Tapi kami tidak punya pilihan lain. Kalau tidak dijual, kami tidak bisa menutup modal,” jelas Suyatmi.

Bagi petani kecil, selisih harga tersebut sangat berarti. Biaya bibit, pupuk, tenaga kerja, hingga perawatan selama berbulan-bulan kini tidak sebanding dengan hasil yang diterima.

BACA JUGA: Petani di Empat Lawang Rugi Rp70 Juta, Hasil Panen Kopi dan Lada Serta Tanaman Kayu Dicuri!

Sebagian petani bahkan terancam merugi dan kesulitan menyiapkan modal tanam untuk musim berikutnya.

Ironisnya, persoalan di sektor pertanian Kepahiang tidak berhenti pada jahe.

Pantauan wartawan di lapangan juga menemukan serangan serius pada komoditas lain, seperti cabai merah.

No More Posts Available.

No more pages to load.