PADA zaman ketika bumi belum sepenuhnya membeku dalam peta dan garis, ketika hutan masih berbicara lewat desir daun dan sungai masih memiliki jiwa yang bisa marah serta berdebat, hiduplah para Puyang, penjaga alam yang dititipkan kekuasaan oleh Yang Maha Awal.
Mereka bukan manusia, bukan pula dewa sepenuhnya. Mereka adalah roh tua yang bersemayam di nadi bumi: di gunung, di hutan, dan terutama di sungai-sungai besar yang menjadi urat kehidupan manusia.
Di antara sungai-sungai itu, yang paling masyhur adalah Sungai Musi, sungai panjang berliku yang mengular dari hulu hingga hilir, membelah tanah luas dan memberi hidup bagi banyak negeri.
Sungai ini dijaga oleh seorang Puyang tua berwibawa, dikenal sebagai Puyang Penjaga Sungai Musi atau Puyang Musi, sosok berambut putih selebat kabut pagi, bermata teduh namun menyimpan amarah sedalam palung sungai.
Tak jauh dari wilayah kekuasaan Sungai Musi, mengalir pula sebuah sungai yang tak kalah keras tabiatnya: Sungai Kelingi. Alirannya tajam, lurus, dan berani menabrak batu-batu besar. Penjaganya, Puyang Penjaga Sungai Kelingi (Puyang Kelingi), dikenal sebagai Puyang yang angkuh, berpendirian keras, dan tak suka tunduk pada siapa pun.
Selama berabad-abad, kedua sungai itu mengalir berdampingan, saling bersua di satu titik pertemuan yang oleh manusia disebut muara. Namun, justru di titik itulah benih pertikaian mulai tumbuh.
Awal Perselisihan
Suatu hari, ketika kabut turun tipis dan angin berembus pelan dari hulu, terdengarlah perdebatan yang menggetarkan dasar sungai. Di batas wilayah pertemuan air, Puyang Sungai Musi dan Puyang Sungai Kelingi bertatap muka.
“Aku tidak sudi,” ujar Puyang Sungai Kelingi dengan suara keras bergemuruh seperti air menghantam tebing, “jika manusia menyebut bahwa Sungai Kelingi bermuara ke Sungai Musi. Itu tidak benar!”
Puyang Sungai Musi mengerutkan keningnya. “Lalu menurutmu bagaimana?” tanyanya, masih berusaha menahan nada.
“Sungai Musi-lah yang bermuara ke Sungai Kelingi,” jawab Puyang Kelingi tanpa ragu. “Lihatlah aliranku yang lurus dan kuat. Akulah sungai utama!”





