Puyang Sungai Kelingi segera angkat bicara. Ia menjelaskan dengan lantang bahwa Sungai Kelingi adalah sungai yang kuat, lurus, dan tidak pantas dianggap anak atau muara dari Sungai Musi.
Puyang Sungai Musi membalas dengan penjelasan panjang tentang usia sungainya, luas wilayahnya, dan banyaknya anak sungai yang mengabdi padanya.
Namun, tak satu pun mau mengalah. Argumen demi argumen bertabrakan, seperti arus sungai yang saling melawan.
Puyang Serunting Sakti menutup mata sejenak. Ketika ia membukanya kembali, keputusannya telah bulat.
“Jika kata tak menyatukan kalian,” katanya, “maka biarlah alam yang menentukan.”
Keputusan Adu Kekuatan
Ia lalu menetapkan sebuah perlombaan.
“Kalian akan mengadu kekuatan aliran. Di titik pertemuan sungai, siapa yang mampu mengalir lurus tanpa dibelokkan oleh yang lain, dialah pemenangnya. Yang kalah harus mengakui kekalahan tanpa syarat.”
Kedua Puyang saling pandang. Tak ada jalan mundur.
“Kami menyanggupi,” kata mereka hampir bersamaan.
Maka, keduanya kembali ke wilayah masing-masing untuk mempersiapkan diri.
BACA JUGA: Eddie Howe Puji Transfer ‘Emas’ Newcastle: Dan Burn Jadi Legenda Hidup The Magpies
Rapat Besar Para Penjaga Sungai
Puyang Sungai Kelingi segera mengumpulkan para penjaga anak sungainya. Mereka duduk melingkar, air mengalir tenang namun penuh siaga.
“Kita harus bersatu,” kata Puyang Kelingi. “Tak boleh ada yang membangkang.”
Semua anak sungai Kelingi menyatakan kesetiaan. Mereka kompak, satu suara, satu tujuan.
Berbeda dengan di wilayah Sungai Musi.
Puyang Sungai Musi menggelar rapat besar. Para penjaga anak sungai hadir: Sungai Ogan, Sungai Komering, Sungai Rawas, dan banyak lagi. Namun satu sosok duduk menyendiri dengan wajah keras: Puyang Sungai Lintang.
Ketika rencana disampaikan, Puyang Sungai Lintang berdiri.





