Legenda Muara Kelingi dan Amarah Sungai Lintang

oleh -63 Dilihat
oleh

PADA zaman ketika bumi belum sepenuhnya membeku dalam peta dan garis, ketika hutan masih berbicara lewat desir daun dan sungai masih memiliki jiwa yang bisa marah serta berdebat, hiduplah para Puyang, penjaga alam yang dititipkan kekuasaan oleh Yang Maha Awal.

Mereka bukan manusia, bukan pula dewa sepenuhnya. Mereka adalah roh tua yang bersemayam di nadi bumi: di gunung, di hutan, dan terutama di sungai-sungai besar yang menjadi urat kehidupan manusia.

Di antara sungai-sungai itu, yang paling masyhur adalah Sungai Musi, sungai panjang berliku yang mengular dari hulu hingga hilir, membelah tanah luas dan memberi hidup bagi banyak negeri.

Sungai ini dijaga oleh seorang Puyang tua berwibawa, dikenal sebagai Puyang Penjaga Sungai Musi atau Puyang Musi, sosok berambut putih selebat kabut pagi, bermata teduh namun menyimpan amarah sedalam palung sungai.

Tak jauh dari wilayah kekuasaan Sungai Musi, mengalir pula sebuah sungai yang tak kalah keras tabiatnya: Sungai Kelingi. Alirannya tajam, lurus, dan berani menabrak batu-batu besar. Penjaganya, Puyang Penjaga Sungai Kelingi (Puyang Kelingi), dikenal sebagai Puyang yang angkuh, berpendirian keras, dan tak suka tunduk pada siapa pun.

Selama berabad-abad, kedua sungai itu mengalir berdampingan, saling bersua di satu titik pertemuan yang oleh manusia disebut muara. Namun, justru di titik itulah benih pertikaian mulai tumbuh.

BACA JUGA: Legenda Pendekar Penjaga Gerbang Empat Lawang 

Awal Perselisihan

Suatu hari, ketika kabut turun tipis dan angin berembus pelan dari hulu, terdengarlah perdebatan yang menggetarkan dasar sungai. Di batas wilayah pertemuan air, Puyang Sungai Musi dan Puyang Sungai Kelingi bertatap muka.

“Aku tidak sudi,” ujar Puyang Sungai Kelingi dengan suara keras bergemuruh seperti air menghantam tebing, “jika manusia menyebut bahwa Sungai Kelingi bermuara ke Sungai Musi. Itu tidak benar!”

Puyang Sungai Musi mengerutkan keningnya. “Lalu menurutmu bagaimana?” tanyanya, masih berusaha menahan nada.

“Sungai Musi-lah yang bermuara ke Sungai Kelingi,” jawab Puyang Kelingi tanpa ragu. “Lihatlah aliranku yang lurus dan kuat. Akulah sungai utama!”

Ucapan itu bagai bara disiram minyak. Air Sungai Musi bergolak. Riak-riak kecil berubah menjadi gelombang yang menghantam tepi.

BACA JUGA: Toyota Fortuner 2026! Desain Makin Gagah, Kabin Mewah, Fitur Canggih – SUV Legendaris Siap Naik Kelas

“Ucapanmu adalah pembangkangan,” kata Puyang Musi dengan suara berat. “Aku lebih tua. Wilayahku lebih luas. Anak-anakku lebih banyak. Tak pernah ada sungai yang bermuara kepadamu!”

Perdebatan semakin panas. Alam sekitar merespons. Burung-burung beterbangan meninggalkan pepohonan, ikan-ikan menyelam lebih dalam, dan langit menggelap meski matahari belum tenggelam.

“Aku menantangmu!” seru Puyang Sungai Kelingi. “Bila kata tak lagi didengar, biarlah kekuatan yang berbicara!”

Tantangan itu nyaris berubah menjadi perang besar antar sungai—perang yang bisa memporak-porandakan daratan dan menenggelamkan negeri-negeri manusia.

Turunnya Puyang Serunting Sakti

Beruntung, sebelum amarah itu tumpah menjadi bencana, suara perdebatan tersebut terdengar hingga ke telinga Puyang Serunting Sakti, seorang Puyang legendaris yang dijuluki Si Pahit Lidah.

BACA JUGA: Misteri Antu Banyu, Legenda Hantu Air Penunggu Sungai Musi yang Masih Hidup di Tengah Masyarakat Sumsel

Ia adalah penjaga keseimbangan, penentu hukum alam, yang kata-katanya dipercaya bisa mengutuk batu menjadi batu, kayu menjadi kayu untuk selamanya.

Dari pertapaannya di tanah tinggi, Puyang Serunting Sakti membuka mata batinnya. Ia mendesah pelan.

“Dua sungai besar berselisih,” gumamnya. “Jika tak segera diputuskan, manusia yang akan menanggung akibatnya.”

Dengan kekuatan gaibnya, ia memanggil kedua Puyang itu untuk menghadap.

Maka, di sebuah dataran sunyi tempat angin berputar melingkar dan tanah terasa dingin meski matahari bersinar, berdirilah Puyang Sungai Musi dan Puyang Sungai Kelingi di hadapan Puyang Serunting Sakti.

Perdebatan di Hadapan Sang Penentu

BACA JUGA: Legenda Bujang Kurap, Kisah Asal Mula Terbentuknya Danau Raya di Musi Rawas Utara

“Jelaskan duduk perkara kalian,” ujar Puyang Serunting Sakti, suaranya tenang namun tak bisa dibantah.

Puyang Sungai Kelingi segera angkat bicara. Ia menjelaskan dengan lantang bahwa Sungai Kelingi adalah sungai yang kuat, lurus, dan tidak pantas dianggap anak atau muara dari Sungai Musi.

Puyang Sungai Musi membalas dengan penjelasan panjang tentang usia sungainya, luas wilayahnya, dan banyaknya anak sungai yang mengabdi padanya.

Namun, tak satu pun mau mengalah. Argumen demi argumen bertabrakan, seperti arus sungai yang saling melawan.

Puyang Serunting Sakti menutup mata sejenak. Ketika ia membukanya kembali, keputusannya telah bulat.

“Jika kata tak menyatukan kalian,” katanya, “maka biarlah alam yang menentukan.”

BACA JUGA: Kisah Legenda Sepak Bola Inggris, Paul Gascoigne Berjuang Keras Lepas dari Ketergantungan Alkohol Hingga Kini

Keputusan Adu Kekuatan

Ia lalu menetapkan sebuah perlombaan.

“Kalian akan mengadu kekuatan aliran. Di titik pertemuan sungai, siapa yang mampu mengalir lurus tanpa dibelokkan oleh yang lain, dialah pemenangnya. Yang kalah harus mengakui kekalahan tanpa syarat.”

Kedua Puyang saling pandang. Tak ada jalan mundur.

“Kami menyanggupi,” kata mereka hampir bersamaan.

Maka, keduanya kembali ke wilayah masing-masing untuk mempersiapkan diri.

BACA JUGA: Eddie Howe Puji Transfer ‘Emas’ Newcastle: Dan Burn Jadi Legenda Hidup The Magpies

Rapat Besar Para Penjaga Sungai

Puyang Sungai Kelingi segera mengumpulkan para penjaga anak sungainya. Mereka duduk melingkar, air mengalir tenang namun penuh siaga.

“Kita harus bersatu,” kata Puyang Kelingi. “Tak boleh ada yang membangkang.”

Semua anak sungai Kelingi menyatakan kesetiaan. Mereka kompak, satu suara, satu tujuan.

Berbeda dengan di wilayah Sungai Musi.

Puyang Sungai Musi menggelar rapat besar. Para penjaga anak sungai hadir: Sungai Ogan, Sungai Komering, Sungai Rawas, dan banyak lagi. Namun satu sosok duduk menyendiri dengan wajah keras: Puyang Sungai Lintang.

BACA JUGA: Misteri Segitiga Bermuda Terungkap? Struktur Raksasa 12 Mil di Bawah Laut Bikin Teori Konspirasi Meledak!

Ketika rencana disampaikan, Puyang Sungai Lintang berdiri.

“Aku tidak ikut,” katanya singkat.

Semua terdiam.

“Ini urusan harga diri Sungai Musi!” seru Puyang Musi.

“Aku tidak peduli,” jawab Puyang Sungai Lintang dingin. “Aku mengalir untuk alam, bukan untuk adu kesombongan.”

Sebelum ada yang bisa membujuk, ia pergi meninggalkan rapat. Air Sungai Lintang mengalir menjauh, seolah memutus hubungan.

BACA JUGA: Kemenangan Sejarah! Makam Pangeran Kramojayo Resmi Kembali Jadi Cagar Budaya — “Tangan Tuhan” di Balik Putusan PTTUN Palembang!

Kegelisahan mulai menyelimuti Puyang Sungai Musi, namun hari perlombaan sudah ditetapkan.

Hari Perlombaan Dimulai

Langit pagi itu kelabu. Alam menahan napas.

Puyang Sungai Kelingi bergerak lebih dulu. Ia memerintahkan seluruh anak sungainya untuk memasang aliran.

Air naik, deras, mengamuk. Sungai Kelingi berubah menjadi air bah yang tak terbendung.

Di titik pertemuan, alirannya mengalir lurus, memotong arus Sungai Musi.

BACA JUGA: Misteri Gua Harimau OKU, Rumah Dua Ras Purba dan Lukisan Ribuan Tahun yang Mengguncang Dunia Arkeologi

Puyang Sungai Kelingi tersenyum jumawa. “Kemenangan sudah di depan mata,” katanya.

Kini giliran Sungai Musi. Perintah dikeluarkan. Anak-anak sungainya meluapkan air, membuat Musi membesar dan mengamuk.

Namun, ada yang kurang.

Meski besar dan deras, aliran Musi tak mampu membelokkan Kelingi.

Barulah saat itu Puyang Sungai Musi sadar.

“Sungai Lintang…” gumamnya. “Ia tidak membantu.”

BACA JUGA: Misteri Ojek Online Tewas Mengapung di Sungai Musi: Pergi Beli Rokok, Pulang Tinggal Nama

Negosiasi Terakhir

Utusan dikirim, namun ditolak. Akhirnya, Puyang Sungai Musi sendiri datang ke hulu Sungai Lintang.

Di sana, ia melihat aliran yang tenang namun menyimpan kekuatan besar.

“Bantulah aku,” pinta Puyang Musi dengan kerendahan hati yang jarang ia tunjukkan.

“Apa imbalannya?” tanya Puyang Sungai Lintang.

Puyang Musi terdiam sejenak, lalu berkata, “Tanah di sepanjang aliranmu akan menjadi paling subur. Lebih subur dari anak sungai mana pun.”

BACA JUGA: Akhirnya Dibuka! Rahasia di Balik Benteng Kuto Besak Palembang Bakal Bisa Dinikmati Publik

Puyang Sungai Lintang menatap jauh. Ia memikirkan manusia yang bergantung pada tanah di sekitarnya.

“Aku setuju,” katanya akhirnya.

Amukan Sungai Lintang

Dengan seluruh kekuatannya, Sungai Lintang dipasangkan. Airnya naik drastis, menghantam apa pun yang dilewati. Batu terguling, pohon tumbang, tanah tergerus.

Ketika aliran ini menyatu dengan Sungai Musi, kekuatan Musi berlipat ganda.

Di titik pertemuan, aliran Sungai Kelingi yang sebelumnya perkasa mulai goyah. Arusnya terpecah, dibelokkan, dipatahkan.

BACA JUGA: Tanpa Usulan Sekolah, BSU 2025 Guru Madrasah Non-ASN Dipastikan Cair! Ini yang Wajib Dicek

Akhirnya, aliran Sungai Musi mengalir lurus.

Keputusan Akhir

Puyang Serunting Sakti mengangkat tangannya.

“Cukup,” katanya.

Ia menatap Puyang Sungai Kelingi. “Kau kalah.”

Dengan berat hati, Puyang Sungai Kelingi menunduk.

BACA JUGA: Malam Maut di Tanjung Agung, Banjir Bandang Telan 150 Nyawa

“Mulai hari ini,” lanjut Puyang Serunting Sakti, “pertemuan ini disebut Muara Kelingi. Sungai Kelingi bermuara ke Sungai Musi.”

Sejak saat itu, keseimbangan kembali terjaga. Dan hingga kini, manusia mengenal aliran itu sebagaimana yang ditetapkan oleh para Puyang pada zaman legenda. (*/red)