Ringkasan Berita:
° Gua Harimau di OKU, Sumsel, menyimpan jejak dua ras manusia purba, puluhan kerangka, dan lukisan dinding berusia ribuan tahun.
° Bermula dari penemuan batu obsidian, situs ini berkembang menjadi museum arkeologi yang digadang menjadi destinasi wisata sejarah terpenting di Sumatra Selatan.
OKU, LINTANGPOS.com – Di balik rimbunnya kars dan semak belukar di Desa Padang Bindu, Kecamatan Semidang Aji, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), tersembunyi sebuah ruang waktu yang membeku ribuan tahun: Gua Harimau.
Kawasan ini, yang awalnya hanya terdengar seperti cerita rakyat dan mitos desa, kini berubah menjadi salah satu situs arkeologi paling penting di Indonesia.
Penemuan besarnya justru berawal dari momen sederhana.
Sekelompok arkeolog yang tengah dalam perjalanan pulang dari Jambi memilih berhenti di sebuah rumah makan di tepi Sungai Ogan.
Sambil menunggu hidangan, salah satu arkeolog memperhatikan bebatuan di halaman.
Sebongkah batu obsidian yang menyerupai kapak batu purba langsung memantik rasa penasarannya. Naluri arkeolognya tersulut.
Ia turun ke pinggir sungai, menyibak bebatuan lain—dan menemukan lebih banyak serpihan obsidian. Ada “sesuatu” di desa ini, pikirnya.
Keberuntungan makin berpihak ketika ia bertemu Ferdi, warga Padang Bindu yang sedang makan di tempat yang sama.
Dari percakapan singkat itulah nama Gua Harimau muncul—bersama sejumlah gua lain yang biasa jadi lokasi pencarian sarang walet.
Namun, ada sesuatu pada nama “Gua Harimau” yang membuat sang arkeolog mengerenyit, seolah insting masa lalunya ikut memanggil.
Menghentak Dunia Arkeologi
Peninjauan ke gua pun dilakukan. Begitu memasuki mulut gua, para arkeolog langsung disambut lukisan-lukisan karst (art rock) pada dinding.
Temuan itu menjadi pintu masuk ke pengungkapan sejarah besar yang selama ini tersimpan di bawah kegelapan gua.
Penelitian tahun 2009–2012, yang diuraikan oleh Hubert, Jatmiko, dan Widianto, menemukan fakta mencengangkan: setidaknya 82 individu manusia prasejarah pernah mendiami gua ini.
Mereka berasal dari dua ras—Australomelanesoid sebagai penghuni awal, dan Neo Mongoloid yang menghuni gua sekitar 4.000 tahun lalu.
Ini menjadikan Gua Harimau salah satu situs pemakaman prasejarah paling lengkap di Indonesia bagian barat.
Tak hanya kerangka, aneka art rock di dinding gua memecahkan teka-teki lama: Sumatra ternyata juga memiliki jejak kuat peradaban gua, setara dengan situs prasejarah lainnya di Nusantara.
Dari Situs Sunyi Menjadi “Museum Lapangan”
BACA JUGA: Bukit Siguntang, Wisata Sejarah dan Alam di Palembang yang Sarat Nilai Budaya
Pemerintah Kabupaten OKU bertindak cepat. Pada 2013, bekerja sama dengan Pusat Arkeologi Nasional, mereka membuat replika beberapa kerangka dan mulai menjadikan kawasan ini sebagai museum lapangan demi memudahkan penelitian lanjutan.
Puncaknya, pada 2016–2019 dibangunlah Museum Gua Harimau, yang akhirnya diresmikan oleh Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon pada 19 Oktober 2025.
Museum ini bukan hanya ruang penyimpanan artefak dan kerangka asli, tetapi juga wadah edukasi yang diharapkan menjadi magnet wisata sejarah dan budaya.
Potensi Besar, Tantangan Pun Tak Kecil
Dengan nilai sejarah setinggi ini, Gua Harimau memiliki potensi besar menjadi destinasi wisata arkeologi unggulan di Sumatra Selatan.
Dampaknya pun menjanjikan—mulai dari peningkatan ekonomi lokal, lapangan kerja baru, hingga diversifikasi sektor wisata OKU.
BACA JUGA: Terungkap! Cara Tak Terduga Manusia Menjaga Cerita Masa Lalu Sebelum Ada Tulisan
Namun, jalannya tidak selalu mulus. Infrastruktur menuju gua masih berupa jalan setapak. SDM pengelola museum pun perlu pelatihan serius agar pengelolaan situs bisa profesional.
Karenanya, sinergi Pentahelix—pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, hingga media—menjadi kunci agar Gua Harimau tidak hanya jadi cerita besar di atas kertas, tapi benar-benar tumbuh sebagai ikon budaya yang menjaga warisan ribuan tahun.
Di Padang Bindu, masa lalu tidak hanya meninggalkan jejak. Ia masih berbicara—menunggu untuk didengar, dipelajari, dan dirawat bersama. (*/red)






